Patjar Merah, Festival Literasi Melawan Mitos
Cari Berita

Advertisement

Patjar Merah, Festival Literasi Melawan Mitos

Rabu, 11 Desember 2019


Festival buku “patjar merah” kembali digelar di kawasan Kota Lama, Semarang. 28 November – 8 Desember 2019. Festival literasi keliling Patjar Merah ini merupakan event yang digelar setelah sebelumnya sukses digelar di Yogyakarta dan di Malang. Bertempat di gedung Soesmans Kantoor dan Monood Dhepius & Co. 

Nama Patjar Merah sebagai nama event pameran buku cukup menarik, menghiasi di sela-sela gedung beragam banner kecil hingga backdrop besar bertuliskan "Patjar Merah" menjadi photoboot event di Kota Lumpiya menyebar di penjuru sisi Kota Lama kali itu.

Sejak awal pasar buku murah ini mengapresiasi ruang-ruang lama yang tidak terpakai. Saat digelar di Jogjakarta, acara ini menggunakan bekas gudang tua di daerah bilangan Gedong Kuning. Nah, untuk kali ini patjar merah menempati kawasan gedung tua di Kota Lama, Semarang. 

Dalam festival ini, patjar merah menyediakan ribuan buku dengan berdiskon hingga 80 persen. Selain pasar buku, ada beberapa rangkaian acara, seperti lokakarya Patjar, tamasya Patjar, panggung Patjar, layar Patjar dan obrolan Patjar, yang didalamnya menyimpan keasyikan dan penuh makna tersendiri. Terutama dalam hal literasi. 

Terkait pasar buku dengan harga yang dibilang murah dengan diskon sampai 80 persen ini saya kita adalah salah satu wujud dari perlawanan terhadap mitos literasi Indonesia yang dianggap rendah sampai terkait buku bajakan yang semakin menyebar luas.

Ungkapan mitos literasi yang rendah, saya kira cukup terpecahkan ketika melihat antusias para pemburu buku datang ke event ini. Ya, meski yang dianggap tingkat membaca yang kurang tak hanya dengan kurangnya kesadaran membaca atau belum terjangkaunya buku buku bacaan ke berbagai wilayah yang membutuhkan. 

Namun, seperti gelaran Patjar Merah menjadi perlawanan terhadap pemikiran seperti itu. Ditengah gencarnya buku bajakan yang juga bagai jamur di musim hujan.

Patjar Merah menjadi gerakan yang menarik melawan hal seperti ini, melawan pembajakan buku dengan adanya event festival kecil literasi dan pasar buku keliling nusantara. Tidak membeli buku-buku bajakan adalah salah satu cara mengapresiasi para penerbit juga penulisnya, serta orang yang berperan dalam penerbitan. Hal demikian sangat perlu kita apresiasi.

Dengan adanya event pameran buku dari patjar merah ini bisa menjadi ruang yang memadai bagi pecinta buku dimulai dari buku sastra hingga agama sampai filsafat. Apalagi harga yang diskon sampai 80 persen sangat mendukung bagi kantong anak perantauan. Wqww~

Sepertinya Patjar Merah hadir karena ingin mendekati generasi ‘menunduk’, istilah generasi menunduk banyak dialamatkan pada generasi millenial jaman sekarang. Dengan kebiasaan memandang smartphone masing-masing dengan menunduk, bahkan sampai sempat dilakukan sembari berjalan kaki. Sesekali muncul dalam bantin mengenai hal ini. 

Memang banyak orang tetap menunduk, ketika berada di event Patjar Merah ini di Kota Lama, tetapi mereka tak menunduk dengan smartphone, mereka menunduk dengan buku, membaca sinopsis buku, melihat desain kover buku. Boleh jadi tetap menunduk untuk melihat harga buku. Lalu dipinanglah buku yang dipilih.

Suasana sejuk karena hujan, menambah kedamaian di tengah kota Semarang, di area bangunan lawas keramaian yang terdengar sayup-sayup, pandangan mata bahkan pikiran pengunjung fokus pada buku yang dituju. 

Sesekali terdengar pula obrolan, diskusi di sela sela bangunan tua ini. Berbagai narasumber yang hadir mengisi acara tersebut. Ivan Lanin, Kalis Mardiasih, Saut Situmorang, Puthut Ea, Edi Mulyono, dan masih banyak lagi. Para narasumber berkumpul untuk saling berbagi hal ihwal penulisan, pembuatan konten, serta hal-hal asyik lainnya. 

"Sang pembelajar - Kami yang menolak lupa"