Harmoni Puasa (14) Tentang Masuknya Islam di Wonosobo
Cari Berita

Advertisement

Harmoni Puasa (14) Tentang Masuknya Islam di Wonosobo

Minggu, 19 Mei 2019


IG: Abdaurizki
Oleh: Ahmad Muzan MPd.I
Dulunya bangunan Masjid tidak berbentuk yang seperti sekarang ini, karena mengalami proses renovasi yang berkali kali hingga bentuknya berubah menjadi yang seperti sekarang. Kedua, Makam Kyai Walik berada di sebelah barat Masjid Kauman sebagai indikasi bahwa sang Kyai memang bertempat tinggal di Kauman dan menyebarkan agama islam di daerah ini dengan memusatkan Masjid sebagai pusat penyebaran islam di daerah Wonosobo. 

Kondisi ini sama dengan makam makam para Wali yang berada di sebalah masjid dan kebanyakan sebelah barat Masjid. Seperti makam Raden Fatah terletak di sebelah barat Masjid Demak, Makam Sunan Ampel di sebelah barat Masjid Ampel dan makam Sunan Kudus terletak di sebelah barat Masjid Kudus.

 Ketiga, terdapat mitos dikalangan masyarakat bahwa Kyai Walik pernah suatu saat hendak menanam pohon beringan Walik (pohon beringin yang daunya terbalik), beliau berkata; "cuhung ing kono besok dadi papan sobo lan kanggo olah kanuragan " kenyataannya tempat ini sekarang menjadi paseban dan tempat oleh raga yang dikenal dengan alon alon. begitu juga dengan proses bakal berdirinya Masjid dan Lembaga Pemasyarakatan.

2. Pada masa Perang Diponegoro antara tahun 1925- 1930 tepatnya pada tahun 1829M terdapat seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama K.R.Asmorosufi (R. Sutomarto II) dengan diikuti oleh putra beliau K.R.Ali Marhamah serta cucu beliau meninggalkan keraton Jogjakarta karena terjadi perselisihan antara Pangeran Diponegoro dengan Mangkubumi yang didukung oleh Belanda. Rombongan ini bermukim di daerah Pasekan Muntilan Kabupaten Wonosobo disamping bergerilnya rombongan ini juga menyebarkan dakwah islam di daerah ini. selanjutnya rombangan ini bergerak menuju daerah Sigedong Tegalgot kepil Wonosobo dan bermukim di daerah ini dengan mendirikan lembaga pendidikan Pesantren untuk kepentingan penyebaran agama islam dengan pengasuh utamanya cucu K.R.Asmorosufi yang bernama KH.R.Abdul Fatah. 

Beliau bermukim di daerah ini serta mengasuh para santri yang mulai berdatangan bersama istri beliau. Selanjutnya K.R.Asmorosufi beserta anak dan cucu yang lainnya melanjutkan perjalanan ke daerah bendosari Sapuran dengan mendirikan masjid serta tempat pengajian (Pesantren) untuk mengajarkan agama islam di daerah ini. beliau mukim di daerah ini hingga wafatnya. Pandangan ini diperkuat dengan beberapa bukti. 

Pertama, di daerah Sigedong Batureno hingga saat masih terdapat peninggalan bersejarah seperti Masjid dan Pesantren yang hingga saat ini masih berfungsi dengan baik sekalipun telah mengalamai renovasi. Kedua, di Bendosari Sapuran terdapat Makam K.R.Asmorosufi dan keluarganya serta peninggalan Masjid dan Pesantren yang hingga saat ini masih ada dan beraktivitas. Ketiga, banyaknya keturunan K.R.Asmorosufi yang masih tinggal di daerah Wonosobo dan menjadi tokoh agama dan masyarakat.9)