Belajar Dari Inkripsi Demak Troloyo di Wonosobo
Cari Berita

Advertisement

Belajar Dari Inkripsi Demak Troloyo di Wonosobo

Rabu, 31 Juli 2019


Kijingpologi 

Sebagaian besar masyarakat mungkin sepakat bila dikatakan bahwa Pulau Jawa merupakan pusat episentrum penyebaran Islam di Nusantara. Meski bukan sebagai wilayah pertama yang menganut Islam, tapi di pulau inilah untuk pertama kalinya Islam diterima demikian luas, serta menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam paling semarak, sehingga Islam menyebar luas di Nusantara sampai hari ini.
Walisongo adalah tokoh-tokoh penting yang dianggap sebagai pionir dalam proses ini. Merekalah yang membuat Islam mudah diterima dan dihayati oleh masyarakat, hingga menjadi pandangan hidup bersama. Puncaknya, adalah ketika umat Islam berhasil mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang bernama Demak, dan meneguhkan posisi umat Islam di tanah Jawa.
Sebagaimana tulisan yang dilansir dari seorang antropoloh, Ambary mengelompokkan kijing makam tua Nusantara dalam 4 tipe, yakni (1) Nisan tipe Aceh; (2) Nisan tipe Demak-Troloyo; (3) Nisan tipe Bugis-Makassar; (4) Nisan tipe Lokal.  Para Arkeolog lainnya ada juga yang menambahkan tipe Banten dan tipe Ternate di luar pengelompokan tipe Lokal.
Nisan yang ada pada foto ini masuk kategori tipe Demak Troloyo tanpa inskripsi. Ragam hias adopsi dari kebudayaan klasik (Hindu). Model Kurawal atau Sulur Makara yang liukannya mengadaptasi simbol makara di pintu/tangga candi. Ada juga motif hias geometris segitiga atau Tumpal. Adapula sulur-sulur tanaman atau hiasan medalion, yang kesemuanya juga bisa kita temukan pada dinding-dinding candi.

Foto : fb Transpiosa Riomandha

Tanpa inskripsi angka tahun atau keterangan lainnya, baik dalam aksara Jawa Kuna atau Arab kita sulit untuk menentukan tahunnya. Jika pada makam masa Demak-Troloyo kaya akan inskripsi, maka model polosan seperti ini diduga hadir sejak awal abad 18 hingga awal abad 20. Foto-foto bagian bawah adalah beberapa tipe nisan Demak Troloyo yang berada di kompleks makam Gipo Ampel, makam Tembok dan makam Oei Sam Hong.* 
Lain lagi yang tersebar di Wonosobo misalnya, ada beberapa yang prenah penulis temui yang menyerupai yang telah disebutkan di atas. Maksudnya beberapa corak dan motif yang di kelompokkan seperti motif pada masa Demak Troloyo. Misalnya sebuah nisan atau kijing di daerah kuburan mainan, yang menandakan motif tersebut. 

Ada juga makam sebuah habib pula yang juga masih satu masa. Kayaknya. Dilihat dari inskripsi yang tertulis menunjukkan tahun dengan angka arab 1880 dan tentu masih ada yang lebih tua dari itu. Serta beberapa kijing pada era tahun kisaran abad 18 juga kebanyakan mengguenakkan motif Demak Troloyo ini meski di era ini pun memiliki tahapan pada era perang jawa dan sebagainya yang juga menyimpan makna dan pesan yang berbeda.
Boleh jadi pada masa itu sedang hits model dengan corak yang sama tinggal tergantung permintaan kepada anak keturunan yang diwariskan. 
Lain lagi di Daerah Wonosobo dan sekitarnya pun juga tak hanya motif ini saja tentu masih banyak motif motif lainnya tinggal di lihat dari masa nya.  mbokan..

*foto beberapa referensi dikutip dari laman fb  https://m.facebook.com/cuk.riomandha?fref=nf&refid=52&ref=opera_speed_dial&notif_t=feed_comment&__tn__=R