Candi Batur Beribu Pitutur
Cari Berita

Advertisement

Candi Batur Beribu Pitutur

Minggu, 26 Mei 2019

Padopokan Giri Saba


Perjalanan hari kedua ekspedisi kawan-kawan Padopokan Giri Saba jelajah Magelang kali itu sedikit tak sesuai rencana yang diinginkan, pagi ketika bangun tidur istirahat setelah seharian pada hari sebelumnya telah menyusuri runtuhan Candi Selogriyo di timur Gunung Sumbing, dan pada malam harinya dopokan perihal kesenian dan kebudayaan di Sanggar Wonoseni milik Ki Ipang. Ngobrol ngalor-ngidul apapun malam itu berlangsung gayeng penuh kemesraan, tentunya banyak hal yang dapat ditangkap wabil khusus minimal untuk menjadi bekal oleh-oleh dibawa ke Wonosobo. terutama untuk penulis itu sendiri sebagai pengalaman yang baru.
            Berangkat dari bagaimana me-managemen sebuah seni pertunjukkan sampai perihal ngemong dalam hal berkesenian maupun berkebudayaan. Misal dalam hal apapun uang tentu dibutuhkan, apalagi dalam suatu perkumpulan tetapi yang lebih diutamakan yaitu dalam menjaga pasedulurannya, ya prioritas paseduluran memang nomer satu.
Sejak pagi hujan mengguyur Windusari, hawa dingin terasa. Rintik hujan yang begitu deras bagai kucuran rindu seorang jomblo kepada yang dirindukan pun tak dapat dibendung, bahkan anak indie pun pagi itu juga dapat membuah sebuah karya puisi sebab saking derasnya hujan di penghujung tahun 2018 di kota seribu bunga itu. #edae
 Setelah menunggu beberapa saat hujan pun reda, tak mau menyia-nyiakan waktu maka dari kawan-kawan PGS langsung bersiap-siap untuk menjelajahi jejak perdaban Candi Batur. Berganti pakaian sampai celana dari panjang menjadi pendek sampai membungkus hp dengan plastik untuk mengantisipasi air hujan jika sewaktu-waktu datang. Mbokan. 

Persiapan dirasa cukup berlangsunglah ekspedisi hari kedua dilaksanakan. Menyusuri Desa desa sekitar candi Batur sampailah di Dusun Ngobaran, Desa Candisari, yang masuk wilayah Kecamatan Windusari, Magelang.
Perjalanan yang ditempuh sekitar setengah jam dari rumah mas Zaki. Sesampainya di post terakhir hanya nampak jalan setapak paving dan sedikit licin, eh tak sedikit deng. Tanpa basa-basi langsung gas menyusuri lereng bukit, belum sampai lokasi yang di tuju jalan semakin menanjak dan ban sepeda pun selip maka terpaksa sepeda motor pun diparkir di tengah perjalanan. Tak begitu lama usai memarkir kendaraan disambung dengan berjalan tipis-tipis menuju puncak bukit Batur. 

Sesampainya lokasi tempat ditemukannya bebatuan candi, kawan PGS pun langsung memulai ibadah nge-live streaming tak lupa uluk salam bismillah. Lanjut dengan menyusuri bagian bagian candi yang telah ditemukan. Candi Batur, warga sekitar menyebutnya. Memang sesuai dari namanya saja sudah menggambarkan. Dari kata Batur dapat diartikan sebagai batu yang ditata, Mbaturan.
Menurut penuturan dari mas Zaki, candi Batur ini ditemukan sekitar tahun 2008-an, dengan ditemukannya pertama sebuah gundukkan yang sekarang ini dapat kita lihat seperti makara.
Makara merupakan makhluk dalam mitologi sering digambarkan sebagai kendaraan dari Dewa Gangga dan Dewa Baruna, makara juga sering dilukiskan dan sering disebut gajah mina yang secara harfiah berarti ikan gajah. Kadangkala juga digambarkan sebagai makhluk berwujud separuh kambing dan separuh ikan seperti simbol dalam zodiak capicorn. Makara ini pun juga sering kita temukan pada pahatan candi, di Candi Batur misalnya yang masih utuh seberapa pada bagian utara dan selatan. Makara digambarkan dengan ukiran gambar burung pada bagian mulut, seperti burung merpati. Ditambah jika dikaitkan di daerah candi batur itu juga dulu sering banyak burung merpati, kandang dara, menyebutnya. 

Ketika menelusuri sisi per sisi reruntuhan candi, dan mendengar tentang burung merpati itu, pikiran saya teringat tentang hal yang dapat dipelajari dari burung merpati, dimana salah satu dari burung yang digambarkan setia kepada pasangan dan juga sebagai wasilah pembelajaran dalam laku urip dari beberapa hewan-hewan lainnya. Jika dikaitkan dengan tempat pernah menjadi rumah bagi burung merpati maka hal ini menjadi sebuah ke menarikan tersendiri dengan amtsal-amtsal yang ada.

Selain makara juga ditemukan sebuah batuan persegi bentuk mirip karambol atau menyerupai sebuah wastafel, entah sebuah batuan yang digunakkan untuk apa. Pada bagian bawah yang kira-kira sebagai pintu gerbang masih terlihat sedikit saja hampir mirip dengan makara sebelumnya. Dilansir dari mbah google menyebutkan bahwa Candi Batur dahulunya juga disebut sebagai Candi Selogono. Selebihnya tak ada data penting yang menyangkut candi tersebut. Candi Batur terlihat ada dua tangga masuk ke bangunan utama candi. Seperti yang telah saya gambarkan diatas.

Dari bebatuan yang berserakan dan tentu masih ada yang belum di temukan namun ini menjadi bahan pembelajaran yang menarik dibalik batu itu tentu mengadung sebuah makna yang ingin disampaikan oleh para pendahulu, yang mesti memuat sebuah beribu pitutur.
Sekira dirasa cukup kali itu dalam penelusuran candi Batur, kawan-kawan PGS pun menyudahi ekspedisi dengan menuruni bukit, sesekali canda dan tawa menyelingi perjalanan sehingga menambah kelelahan perjalan itu. Namun itu yang menjadi kerinduan jika tak bertemu. Ekspedisi pun dipungkasi dengan ngadem di Kalibening, Payaman, dengan ciblon mandi dari mata air yang jernih sebelum kembali ke negeri atas awan, Wonosobo, the cool of java. Edae.