Ondo Budo, kemanakah arahnya?
Cari Berita

Advertisement

Ondo Budo, kemanakah arahnya?

Jumat, 28 Juni 2019




Banyak orang yang sudah mendengar tentang situs Ondo Budo di Dieng, yang merupakan peninggalan sejarah dari kejayaan masa lalu, bahkan banyak juga yang langsung melihat ke lokasi untuk mengobati rasa penasarannya dan tentunya mendokumentasikan.

Dusun Siterus Desa Sikunang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo merupakan lokasi yang menjadi salah satu tempat dimana Ondo Budo berada, tepatnya di sebelah selatan dusun Siterus, Menurut sesepuh Dieng nama Siterus sendiri terkait erat dengan kata penerus dimana dulunya dusun ini merupakan penerus dari nenek moyang penduduk Dieng, beberapa bukti yang ada adalah banyaknya anak berambut gimbal di dusun ini yang merupakaan penerus dari Tumenggung Kyai Kolodete yang dipercaya sebagai sesepuh atau leluhur yang berada di Dieng.

Ondo Budo merupakan peninggalan sejarah yang memiliki nilai tinggi dan banyak penduduk sekitar kawasan Dieng yang percaya dulunya dijadikan sebagai jalan menuju Dieng dari wilayah bawah, jalan tersebut merupakan jalan sepatak batu berundak- undak. orang-orang tua warga desa Sikunang Sembungan dan sekitarnya juga dulunya selalu menggunakan jalan ini apabila akan pulang pergi kedesa disekitarnya. 
Selama ini Keberadaan Ondho budho juga masih digunakan oleh petani untuk pulang pergi keladang. Fungsi ini tentunya hanya melanjutkan dari apa yang dulu sering dilakukan oleh generasi sebelumnya.


Jalur jalan raya penghubung Wonosobo-Dieng via Kejajar besar kemungkinan bukanlah jalur kuno. Indikasi ini muncul dikarenakan ada kasus pembelahan gunung dan juga situs Watu Kelir ketika memasuki pintu masuk. Selain itu, minimnya sumber mata air juga menjadi saksi yang memberatkan untuk jalur ini.
Sebagaimana menurut informasi teman-teman, hah teman? Iya Cuma dianggap teman wqwq.  dan juga warga yang berdomisili Dieng-Wonosobo juga mengabarkan jika dahulu memang ada jalur pintas via Telaga Sembungan. Yang bisa dilewati lebih cepat dengan jalan kaki dari pada naik motor via Kejajar.
Penulis sendiri pun pernah melewati jalan tersebut bukan dari bawah tetapi jalan kaki menyusuri jalan yang dimaksud dari Dieng, Sembungan sampai ke dusun Dadapan Garung, yang sebenarnya apabila diteruskan ke dusun tetangga dari Dadapan akan sampai di Dusun Kalilawang yang pada jaman dahulu bernama jalan Panangkaran, orang daerah tersebut pun masih menyimpan cerita dan sampai sekarang pun juga masih menyebut di daerah Kalilawang tersebut ada jalan Panangkaran.
Seperti yang dilansir pada peta wikimapia menunjukkan jalan yang kaya akan sumber air, melewati lereng gunung Pakuwaja-Seroja-Bisma. Sumber-sumber mata air yang terlihat terdapat Telaga Cebong-Air Terjun Sikarim dan Menjer. 

Garis lurus bisa di ambil melalui Candi Gatotkaca hingga Garung. Kenapa Garung? Hanya berdasar toponim Garung yang pernah dijabat oleh seroang raja Mdang. Karena hingga kini masih buta ke kunoan Garung. Jarak9.21km bukan jarak yang jauh untuk berjalan kaki, dengan ditempuh 4 jam berjalan santai mungkin bisa sampai. Logikanya mendaki Gunung Prau dan menyusuri seluruh jalur setapak sepanjang 6km hanya butuh 2-3jam. Untuk membuktikannya, perlu penelusuran dan mesti dicoba, dengan blusukan, atau jika meminjam kawan-kawan Padopokan Giri Saba yaitu ‘perjalanan dinas’ anggap saja mbolang dengan menikmati pemandangan alam Dieng yang tak pernah ingkar janji ditambah cuaca yang sedang dingin dinginnya, mirip doi? Mungkin. Wkwk.
Bersambung..