Gambaran Kehidupan Masyarakat Negeri Atas Awan
Cari Berita

Advertisement

Gambaran Kehidupan Masyarakat Negeri Atas Awan

Selasa, 25 Februari 2020

Foto: I. Kinsbergen, Candi Srikandi 1867

Kayu Rangkah, Gambaran Kehidupan Masyarakat Negeri Atas Awan

Perjalanan ini dilakukan HC Cornelius pada bulan November 1814, atas mandat perintah Raffles, tapi tentu yang tertulis disini yang tak termuat dalam tulisannya itu. Pandangan ini cukup berarti, Dimana sebuah sejarah telah dicatat oleh orang Eropa hingga berhasil menuju rumah para dewa yang belum mereka jamah sebelumnya.

 Rute yang ia lewati berawal dari Magelang, berangkat dari rumah resident dengan membawa serta rombongan besar. Tentu saja perjalanan yang dilakukan tidak murni oleh orang Eropa. Terdapat penduduk asli yang menjadi penunjuk jalan.

Lepas dari Magelang, ia menuju Secang, dilanjutkan ke Temanggung, via Parakan yang dilanjutkan ke arah barat laut dengan naik turun Gunung hingga memutari Telaga Menjer.

 Rute ini artinya ia tidaklah melewati Wonosobo, atau jalan besar sekarang yang menghubungkan Magelang-Wonosbo-Dieng. Perjalanan tersebut memakan waktu 4 hari, dengan berkuda.

Selepas dari Parakan jalur berat sudah mulai terasa, dimana 70% mereka lakukan dengan menuntun kudanya. Selain medan yang berat, teror dari Harimau menjadi salah satu musuh mereka. 

Dimana sering kali raja Hutan Jawa ini berkali-kali memangsa manusia di Lereng Sindoro-Sumbing. Hingga di malam terakhir ia menginap disebuah Negorij (wilayah) yang bernama Kayu Rangkah.

Dusun ini berada dibawah desa yang lebih luas bernama Kali Beber yang dilewati sebelumnya, kedua desa terpisah dengan tebing curam yang di aliri Kali Tulis yang mengalir deras dan hanya bisa dilewati dengan jembatan gantung kayu yang dijalin dengan pilinan bambu.

 Setelah melewati tanjakan yang melelahkan rombongan melihat sebuah pohon besar yang menjadi asal usul nama dusun, Kayu Rangkah.

Desa di huni oleh 12 kepala keluarga, yang seluruhnya merupakan orang Jawa. Tidak ditemukan hewan piaraan, baik itu kerbau, sapi ataupun unggas.

 Penduduk hidup dengan berladang jagung, kacang, dan juga beberapa hasil bumi (kecuali padi), selain itu mereka juga menanam dan membudidayakan tembaku untuk keperluan hidup.

Penduduk desa dikatakan berbadan sehat, berotot, namun berkulit pucat. Keseharian mereka adalah berladang dan mencari kayu diatas gunung. Mereka mengambil kayu dengan menggunakan sebuah pedati kecil, tanpa ditarik sapi (gerobak?). 

Aktifitas biasa dilakukan pada musim hujan hal ini dikarenakan ketika musim panas udara terasa sangat dingin (bediding). Juga mencari kayu di dalam hutan.

Bila bediding tiba, hari-hari mereka lewati didalam rumah dan menghabiskan waktu di sekitar api unggun dan menghisap tembakau untuk mengusir hawa dingin. Bila tak ada keperluan mendesak, mereka tidak akan keluar rumah.

 Hal inilah yang menurut Cornelius membuat kulit mereka pucat, karena terlalu sering menghirup asap pekat dari api yang mereka buat.

Untuk melawan dingin, penduduk di tempat ini juga memiliki pakaian yang sedikit berbeda dengan daerah di dataran rendah. Dimana mereka menggunakan semacam kain rok wanita berbentuk kotak (sarung), yang dililitkan pada bagian leher dan tubuh mereka.

Pertama melihat rombongan orang Eropa tersebut, Perempuan dan Anak-anak lari ketakutan keluar desa. Mereka tidak atau belum pernah bertemu orang asing sebelumnya. 

Namun setelah dijelaskan kepada Kepala Desa atau Loera (Lurah?) mereka berangsur angsur kembali dengan jaminan keselamatan.

Rombongan menginap di tempat ini, dimana mereka ditampung dirumah kepala desa. Rumah tersebut merupakan rumah paling besar di antara rumah-rumah lain. Namun begitu bagi orang rombongan itu, teramat sangat tidak layak. 

Mereka tidur di sebuah balai-balai mirip pendopo, yang sejatinya adalah tempat mengeringkan tembakau (nggarang, pengeringan tembakau dengan asap).

Dikarenakan asap yang pekat dan mengepul rombongan tersebut tidak dapat tidur, hingga membuat mereka keluar masuk ruangan walau harus melawan dingin hawa pegunungan malam.

Setengah delapan pagi rombongan ini melanjutkan perjalanan. Meskipun telah siang, namun sinar mentari belum mampu menembus kabut pagi. Atas saran kepala desa mereka di anjurkan untuk meninggalkan kuda. Hal itu dikarenakan jalan ke Dieng tidak mungkin dilalui dengan Kuda.

Saran itu sudah tentu membuat rombongan yang sudah amat lelah dalam perjalanan dua hari terakhir ini semakin merintih dalam hati. Tapi karena memang mereka tidak tahu medan, dan melewati jalanan ekstrim di hari-hari yang lalu, mereka pun memgikuti saran ini.

Dan benar, jalanan mereka lalui lebih gila dibandingkan yang sebelumnya. jalanan mendaki tajam, sempit, berbatas jurang dan berdinding tebing. Hingga kemudian mereka bertemu dengan sebuah anak sungai yang bermuara pada sebuah air terjun tinggi (Sikarim?).

Selepas dari air terjun ini perjalanan mulai landai. Di bawah pohon besar mereka beristirahat sejenak. Sepanjang perjalanan mereka tak bertemu hewan liar bahkan unggas sekalipun. 

Satu-satunya satwa yang terlihat disana adalah gerombolan lutung dan kera. Dimana hewan-hewan itu mengeluarkan suara bersahut-sahutan ketika melihat rombongan datang.

Tiba? Belum lah, sebelum masuk wilayah datarang tinggi Dieng mereka masih melalui satu desa terakhir yang berjarak 7 mil dari pinggiran dataran tinggi. Mereka menyebutnya Conan (Sikunang?), desa inilah pos akhir kehidupan manusia yang dihuni 16 kepala keluarga.

Masih banyak cerita dari Cornelius yang mungkin baru diketahui, yang salah satunya kebiasan Sultan Jogja yang meminta kiriman bongkahan beleran dari kawah Gunung Di Hyang. 

Tak jelas kegunaannya, namun menurut penduduk kala itu, Sultan selalu menginginkan belerang terbaik tiap tahun untuk di kirim ke istana.

Dihimpun dari berbagai sumber.