Menemukan Dwarapala Pada Candi
Cari Berita

Advertisement

Menemukan Dwarapala Pada Candi

Jumat, 27 Desember 2019


Dwarapala atau sering pula disebut gupolo atau reco pentung. Merupakan arca yang cukup banyak ditemukan baik di Jawa, Sumatera ataupun Bali. Bentuknya bervariasi umumnya raksasa (kecuali Bali belakangan mengambil bentuk Anila dan Anggada).

Dwarapala merupakan spesies Yaksa, penjaga pintu gerbang dan jumlahnya sepasang. Sebagai penjaga pintu ia tidak mengenal latar belakang, entah Hindu atau Buddha. Keduanya memakai jasa mereka.

Sebagai salah satu bagian penting dalam candi tentu penggambaran Dwarapala telah ditentukan dalam kitab Manasara.

 Dia duduk jongkok dengan salah satu kaki ditekuk ke belakang menyerupai bajak. Tidak bersila, tidak berdiri apalagi berbaring. Posisi ini memberi pesan mengenai kesiapan dan persiapan untuk selalu siap bergerak ketika ada perintah atau kewaspadaan.

Wajahnya seram, raksasa dengan mata melotot mulut menyeringai mengeluarkan taring. Bukan untuk menakuti, tapi raksasa adalah perlambang tekad dam kekuatan yang besar.

 Gada adalah senjata umum sebagai laksana Dwarapala disamping belati dan ular. Gada merupakan symbol penghancuran, penhancuran segala pikiran buruk, niat buruk yang harus dilebur sebelum memasuki tempat suci.

Dalam Manasara juga dikatakan Dwarapala hendaknya sepasang, kiri dan kanan, arah hadap lutut dihadapkan kepada pintu gerbang. Kiri kanan adalah symbol dualitas, baik-buruk, susah-senang, hitam-putih yin dan yang. Mereka sebenarnya serupa, sama rasa namun karena kita masih tertutup oleh obyek indra yang membuat kita membedakannya.

Pada masa kemudian (Majapahit sampai surutnya Hindu-Buddha) dwarapala diwujudkan semakin bervariasi, kadang tidak lagi beebentuk yaksa, tapi manusia. Tak lagi jongkok namun berdiri tegak. Tak lagi gada, kadang juga bendera.

Sudah barang tentu hal tersebut merupakan juga hasil olah pikir yang diwujudkan dalam seni ukir.