Senin, 22 Januari 2018

Negesi Tembang Babadan


foto: ig @sandisandoro_94

“Ketika sudah matang dalam memetakan ilmu, maka ketika diberi rakhmat, rizqi yang diberikan Allah maka tidak lain hanya bisa bersyukur apa yang sudah diberikan. Tutur lik Slamet melanjutkan pembicaraanya. Sampean pernah dengar kang lanjutan syiir babadan yang kita sudah  bahas tadi kang?”
“eem.ee.. baru sekali sih kang, dengar saja masih remang-remang. Memangnya sampean punya teks nya atau ada rekaman audionya lik? Tukas kang Iman sedikit ragu dan penasaran.
“Saya punya dua duanya kang, tapi tak satu pun yang saya bawa, masak saya dolan keangkringan Mbah Wulung kober bawa teks tembangan”. Jawab lik Slamet singkat.
“Iya kan mbah?” celetuk lik Slamet kepada mbah Wulung.
‘Sae sae sae lik” kata mbah Wulung sambil mengacungkan jempolnya.
“Tapi saya sedikit sedikit hafal syairnya kang tenang saja..
“Ekhem ekhem.. lik Slamet cek suara, lalu sedikit ambil nafas tanpa basa basi langsung rengeng rengeng cuplikan syair dari tembang Babadan;
“Aweh pangan pangeran aweha pangan
Aweh sandang pangeran aweha sandang
Aweh udan pangeran aweha payung”
“Nah begitu kang, kelanjutan syairnya.” Lik Slamet mengakhiri rengeng rengengnya sambil sedikit menyeruput kopinya.
Kang Iman yang dari tadi menyimak larik per larik tembang yang di senandungkan oleh sahabatnya, terlihat hanya manggut manggut kagum, secara spontan langsung nyeletuk;
“ya tadabburnya bagaimana lik?”
“Wah, sampean kurang puas saja dari tadi..”
“Lha coba sampean bayangkan lik ibarat kopi kalau tak ada gathuknya kan kurang joss, begitulah tembang yang jenengan bawakan lik?”. Sanggah kang Iman sambil cengengesan.
Haduhh, ada sajaakalmu kang..
“ jadi begini kang yang dapat kita tadabbur-i dari tembang tersebut ya, gusti Allah  kan sudah jelas menjamin semua dalam kehidupan, maka sesungguhnya tinggal kita dalam menanggapi, mau memilih syukur atau kufur, apabila syukur akan ditambah nikmatnya tapi kalau kufur maka akan mendapat siksa. Kan sudah jelas to?
Dalan lunyu pangeran aweha teken
Duh gusti pengeran kula”
Nah, kemudian diteruskan dengan lirik “Dalan lunyu pangeran aweha teken//Duh gusti pengeran kula”. Dalam menempuh kehidupan menuju gusti Allah SWT kita harus menaklukkan goncangan goncangan dalam hati, dan selalu memohon kepada Allah agar diberi petunjuk. Memang kepada siapa lagi kita meminta pertolongan selain Hanya kepada Allah SWT.
Wonosobo, 22 Januari 2018 

*tadabbur: belajar kepada apapun asalkan menjadikan hidup menjadi lebih baik dan menambah kedekatan pada Tuhan dan Kekasih-Nya.

Load disqus comments

0 facebook

#INSTAGRAM WONOSOBO CLICK