Senin, 15 Januari 2018

Belajar Dari Tembang Babadan (3)


foto:ig;@nugroho_art

“Owalah gitu to lik.” Timpal kang Iman manggut-manggut.
Ditambah lagi ada syair lanjutannya yang bunyinya seperti ini kang; “Sun sinau mbangun langgar pinggir kali”.
Lha apa itu kang? Sampean mau mendirikan mushola dipinggir kali? Nanti kalau kebajiran bagaimana sudah dipikir sejauh itu kang?
Esh esh esh. Sst, sampean diam dulu to kang. Dari tadi nanya terus tak dijeda pula, nanti saya jawabnya gimana? Lik Slamet memotong pertanyaan kang Iman yang nyrocos seperti sepur.
Ohh. Iya lik iya, maaf lo saya kan terburu penasaran? Kang Iman membela dirinya. Monggo teruskan?
 Pada syair diatas  bermakna "saya belajar membangun mushola di tepi sungai". Tapi akan menjadi wagu jika diartikan secara kata perkata. Saya sudah menebak pasti jika saya mengucapkan syair itu pasti akan menimbulkan sebuah pertanyaan; apakah mendirikan langgar di tepi sungai pas? Bagaimana ketika sedang sholat dan banjir menerjang?. Seperti yang sampean ditanyakan tadi lo?
Namun, begini kang, yang dapat saya tangkap dari teks tersebut adalah belajar maupun mempelajari, seperti yang tertera pada kata sinau. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan harus selalu mempelajari maupun belajar kepada.”
“Belajar yang bagaimana?” Kang Iman nyeletuk lagi.
“Ya, belajar pada tari lengger, menyan, belajar pada gamelan, belajar kepada apapun asalkan menjadikan hidup menjadi lebih baik dan menambah kedekatan pada Tuhan dan Kekasih-Nya(mentadabburi apapun). Dan tak lupa dengan berbekal sudut pandang, jarak pandang. apabila sudah matang dalam hal hal, lalu tinggal bagaimana mengolah menjadi ilmu (metodologi).” Tandas lik Slamet, sambil asyik nglinthing tembakaunya..

Wonosobo, 15 Januari 2018
Read more

Selasa, 09 Januari 2018

Belajar Dari Tembang Babadan (2)

foto: IG @trexbae


Ya sudah saya tak balik dulu kang, gadget saya dayanya habis. Tukas kang Amin sambil nyruput kopi yang terkahir. Sambil membayar dan berbalik arah ingin pulang tak luput tangannya menyahut tempe kemul dengan pergi menggalkan angkringan. Kang Iman aku duluan ya? Ini tempe bayar jenengan heuheuheu..



“Wah kok saya yang jadi bayar kang ?” kang Iman menanggapi kang Amin yang sudah berjalan di selimuti kabut malam dengan sedikit remang remang pantulan cahaya bulan purnama bersinar.

“Belum selesai juga ceritanya langsung pergi saja..” Gerutu kang Iman. Lik Slamet yang duduk disebelahnya hanya tersenyum melihat tingkah kawannya itu.

“Sudah sudah kang, teruskan saja ngopi mu itu nanti keburu dingin lo?.” Lik Slamet mengawali pembicaraannya sambil menyodorkan gedhang goreng kemebul ke kang Iman. Kita teruskan saja pembicaraannya.

"Oh iya kang” jawab kang Iman singkat dengan menyeruput kopi hitamnya.

"Tembang babadan itu sebenarnya juga sebagai pengeling-eling kang, sebab didalam syairnya menyiratkan tentang persaksian kepada gusti kang Maha Agung Maha Welas Asih atau jika dapat kita sebut dengan syahadatain( dua kalimah syahadat) ditambah tembang ini dilantunkan diawal pagelaran, jadi sebelum acara dimulai otomatis kita untuk selalu ingat dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Gusti Allah dan Kanjeng nabi Muhammad adalah utusan Allah Swt. kita memohon doa kepada Allah agar selalu melindungi dalam setiap laku maupun perbuatan apapun." Tutur lik Slamet membuka pembicaraanya.
Wonosobo, 8 Januari 2018
Read more

Jumat, 05 Januari 2018

Selayang Pandang Masjid Al-Manshur Wonosobo



Untuk rubrik “ziarah” pekan ini Wonosbo Click akan mengajak anda menyusuri Masjid yang ada di Wonosobo. tepatnya masjid Al-Manshur Wonosobo atau masjid besar Kota Wonosobo, yang kemudian lebih dikenal dengan Masjid Kauman, masjid ini begitu bersejarah sampai mampu menarik masyarakat dari dalam maupun luar kota untuk selalu mengunjunginya.


Khususnya pada hari jum’at, masjid ini bahkan tidak mamapu menampungjaahnya, selain hari jum’at, jamaah masjid Al-Manshur terlihatbanyak pada hari Sabtu khususnya pada sholat ashar, hal ini bertepatan dengan dilaksanakannya pengajian  Sabtu atau kerap juga disebut pengajian Setonan. Yang rutin dilaksanakan semenjak tahu 1960an, ditambah posisinya yang berada di tengah Kota Wonosobo serta mudah di jangkau dengan transportasi dari segala arah. Jamaah terlihat berbondong bondong datang  ketika waktu dhuhur menjelang.

Masjid yang memilki pertalian erat dengan sejarah berdirinya Pemerintahan Kabupaten Wonosobo, ini juga mencatat sejarah penting sebagai pusat penyebaran Islam. Masjid Al Manashur Wonosobo, didirikan jauh sebelum  masa kemerdekaan. Berbagai kalangan memepercayai umur  masjid ini jauh lebih tua dari kota Wonosobo sendirim sebab cikal bakal terbentuknya Kota Wonosobo itu justru berawald ari masjid Al Manshur ini.
 
foto: KHHI
Ya mungkin ulasan mengenai Masjid beasr Al-Manshur Wonsobo kita cukupkan dulu, untuk rubrik kedepan kita ulas kembali dengan cerita yang lebih menarik dan lebih asyik. Penasaran? Tunggu pekan depan!. 
*(Dihimpun dari berbagai sumber)
Read more

#INSTAGRAM WONOSOBO CLICK