Senin, 29 Januari 2018

Belajar Kembali Parikan Lengger


: @trexbae28 IF:@estind_n.k

“Oalah, gitu to lik? Baru tahu saya malah. Berarti disetiap larik atau syair yang dilantunkan menyelingi tari lengger dapat di pelajari maupun dikaji lik?” Kang Iman bertanya balik.
Ya tentu bisa kang, pertama sebelum kita masuk mempelajari makna perlu kita tahu juntrungannya, syair seperti itu dikelompokkan ke dalam “puisi jawa baru bukan tembang kang.”
Lho kok bisa sih lik?
“Jadi begini kang, yang dimaksud dengan “puisi Jawa baru bukan tembang”, semata mata didasari pada pola bunyi, termasuk guru lagu, dan pola baku dalam pembacaan, bahasa mudahnya tidak adanya susunan nada. Begitu kang.” Tandas lik Slamet singkat.
            “Nah, untuk syair yang dilantunkan ketika Lenggeran itu bisa disebut Parikan kang. Parikan ya suatu larikan atau baris baris bunyi dan kata.”
“Menurut buku yang pernah saya baca mengenai puisi jawa, parikan dianggap sebagai puisi rakyat sebab hidup dan berkembang di tengah tengah rakyat, bahkan setiap orang Jawa dapat mengucapkan sekaligus membuat parikan.”
            Muatan isinya pun beragam kang, dari nasihat, sindiran, senda gurau dan masih banyak lagi.
            “Terus apa lagi lik selain muatan isinya?” kang Iman penasaran.
Lik Slamet diam sejenak mengatur nafas dengan tangannya menjangkah gedhang goreng yang sedari tadi diam tak bertuan, lalu meneruskan pembicaraannya;
“Disamping itu, parikan juga mucul sebagai bagian seni pertunjukkan, kang. Ya seperti halnya dalam pertunjukkan tari lengger ini, dilantunkan untuk menyelingi gedhing atau sebagai isen- isen berupa cakepan. Tutur lik slamet dengan menyeruput kopi terakhirnya, “sruuuputt.ehmm Pass ini seruputan terakhir.”
            ayo lah kita pulang kang sudah tengah malam ini? Ajak lik slamet dengan berdiri sambil membayar kopi dengan ubo rampenya tadi.
“Wah, tunggu dulu lik, sampean belum tuntas mbeber klasa nya belum puas hati saya ini.“   Sanggah kang Iman seperti masih ingin mendengarkan cerita lik Slamet.
“Sudah malam lho ini, kita sambung lagi besok tak tunggu di rumahku kang, nanti sampean lebih puas ditambah juga bisa baca buku lo dirumahku” tutur lik slamet menawari.
            “Kalau begitu saya duluan ya kang?”
            “Oke lik oke siap kalau begitu, saya tak pulang nanti dulu lik..” jawab singkat kang Iman ditinggal sahabatnya pulang, yang masih ingin berselimut kabut malam dengam merenung di angkringan mbah Wulung sembari menanti tim kebanggaannya main, bukan lain; em-yu. Ya MU!.
Wonosobo, 29 Januari 2018.
Read more

Senin, 22 Januari 2018

Negesi Tembang Babadan


foto: ig @sandisandoro_94

“Ketika sudah matang dalam memetakan ilmu, maka ketika diberi rakhmat, rizqi yang diberikan Allah maka tidak lain hanya bisa bersyukur apa yang sudah diberikan. Tutur lik Slamet melanjutkan pembicaraanya. Sampean pernah dengar kang lanjutan syiir babadan yang kita sudah  bahas tadi kang?”
“eem.ee.. baru sekali sih kang, dengar saja masih remang-remang. Memangnya sampean punya teks nya atau ada rekaman audionya lik? Tukas kang Iman sedikit ragu dan penasaran.
“Saya punya dua duanya kang, tapi tak satu pun yang saya bawa, masak saya dolan keangkringan Mbah Wulung kober bawa teks tembangan”. Jawab lik Slamet singkat.
“Iya kan mbah?” celetuk lik Slamet kepada mbah Wulung.
‘Sae sae sae lik” kata mbah Wulung sambil mengacungkan jempolnya.
“Tapi saya sedikit sedikit hafal syairnya kang tenang saja..
“Ekhem ekhem.. lik Slamet cek suara, lalu sedikit ambil nafas tanpa basa basi langsung rengeng rengeng cuplikan syair dari tembang Babadan;
“Aweh pangan pangeran aweha pangan
Aweh sandang pangeran aweha sandang
Aweh udan pangeran aweha payung”
“Nah begitu kang, kelanjutan syairnya.” Lik Slamet mengakhiri rengeng rengengnya sambil sedikit menyeruput kopinya.
Kang Iman yang dari tadi menyimak larik per larik tembang yang di senandungkan oleh sahabatnya, terlihat hanya manggut manggut kagum, secara spontan langsung nyeletuk;
“ya tadabburnya bagaimana lik?”
“Wah, sampean kurang puas saja dari tadi..”
“Lha coba sampean bayangkan lik ibarat kopi kalau tak ada gathuknya kan kurang joss, begitulah tembang yang jenengan bawakan lik?”. Sanggah kang Iman sambil cengengesan.
Haduhh, ada sajaakalmu kang..
“ jadi begini kang yang dapat kita tadabbur-i dari tembang tersebut ya, gusti Allah  kan sudah jelas menjamin semua dalam kehidupan, maka sesungguhnya tinggal kita dalam menanggapi, mau memilih syukur atau kufur, apabila syukur akan ditambah nikmatnya tapi kalau kufur maka akan mendapat siksa. Kan sudah jelas to?
Dalan lunyu pangeran aweha teken
Duh gusti pengeran kula”
Nah, kemudian diteruskan dengan lirik “Dalan lunyu pangeran aweha teken//Duh gusti pengeran kula”. Dalam menempuh kehidupan menuju gusti Allah SWT kita harus menaklukkan goncangan goncangan dalam hati, dan selalu memohon kepada Allah agar diberi petunjuk. Memang kepada siapa lagi kita meminta pertolongan selain Hanya kepada Allah SWT.
Wonosobo, 22 Januari 2018 

*tadabbur: belajar kepada apapun asalkan menjadikan hidup menjadi lebih baik dan menambah kedekatan pada Tuhan dan Kekasih-Nya.

Read more

Senin, 15 Januari 2018

Belajar Dari Tembang Babadan (3)


foto:ig;@nugroho_art

“Owalah gitu to lik.” Timpal kang Iman manggut-manggut.
Ditambah lagi ada syair lanjutannya yang bunyinya seperti ini kang; “Sun sinau mbangun langgar pinggir kali”.
Lha apa itu kang? Sampean mau mendirikan mushola dipinggir kali? Nanti kalau kebajiran bagaimana sudah dipikir sejauh itu kang?
Esh esh esh. Sst, sampean diam dulu to kang. Dari tadi nanya terus tak dijeda pula, nanti saya jawabnya gimana? Lik Slamet memotong pertanyaan kang Iman yang nyrocos seperti sepur.
Ohh. Iya lik iya, maaf lo saya kan terburu penasaran? Kang Iman membela dirinya. Monggo teruskan?
 Pada syair diatas  bermakna "saya belajar membangun mushola di tepi sungai". Tapi akan menjadi wagu jika diartikan secara kata perkata. Saya sudah menebak pasti jika saya mengucapkan syair itu pasti akan menimbulkan sebuah pertanyaan; apakah mendirikan langgar di tepi sungai pas? Bagaimana ketika sedang sholat dan banjir menerjang?. Seperti yang sampean ditanyakan tadi lo?
Namun, begini kang, yang dapat saya tangkap dari teks tersebut adalah belajar maupun mempelajari, seperti yang tertera pada kata sinau. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan harus selalu mempelajari maupun belajar kepada.”
“Belajar yang bagaimana?” Kang Iman nyeletuk lagi.
“Ya, belajar pada tari lengger, menyan, belajar pada gamelan, belajar kepada apapun asalkan menjadikan hidup menjadi lebih baik dan menambah kedekatan pada Tuhan dan Kekasih-Nya(mentadabburi apapun). Dan tak lupa dengan berbekal sudut pandang, jarak pandang. apabila sudah matang dalam hal hal, lalu tinggal bagaimana mengolah menjadi ilmu (metodologi).” Tandas lik Slamet, sambil asyik nglinthing tembakaunya..

Wonosobo, 15 Januari 2018
Read more

Selasa, 09 Januari 2018

Belajar Dari Tembang Babadan (2)

foto: IG @trexbae


Ya sudah saya tak balik dulu kang, gadget saya dayanya habis. Tukas kang Amin sambil nyruput kopi yang terkahir. Sambil membayar dan berbalik arah ingin pulang tak luput tangannya menyahut tempe kemul dengan pergi menggalkan angkringan. Kang Iman aku duluan ya? Ini tempe bayar jenengan heuheuheu..



“Wah kok saya yang jadi bayar kang ?” kang Iman menanggapi kang Amin yang sudah berjalan di selimuti kabut malam dengan sedikit remang remang pantulan cahaya bulan purnama bersinar.

“Belum selesai juga ceritanya langsung pergi saja..” Gerutu kang Iman. Lik Slamet yang duduk disebelahnya hanya tersenyum melihat tingkah kawannya itu.

“Sudah sudah kang, teruskan saja ngopi mu itu nanti keburu dingin lo?.” Lik Slamet mengawali pembicaraannya sambil menyodorkan gedhang goreng kemebul ke kang Iman. Kita teruskan saja pembicaraannya.

"Oh iya kang” jawab kang Iman singkat dengan menyeruput kopi hitamnya.

"Tembang babadan itu sebenarnya juga sebagai pengeling-eling kang, sebab didalam syairnya menyiratkan tentang persaksian kepada gusti kang Maha Agung Maha Welas Asih atau jika dapat kita sebut dengan syahadatain( dua kalimah syahadat) ditambah tembang ini dilantunkan diawal pagelaran, jadi sebelum acara dimulai otomatis kita untuk selalu ingat dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Gusti Allah dan Kanjeng nabi Muhammad adalah utusan Allah Swt. kita memohon doa kepada Allah agar selalu melindungi dalam setiap laku maupun perbuatan apapun." Tutur lik Slamet membuka pembicaraanya.
Wonosobo, 8 Januari 2018
Read more

#INSTAGRAM WONOSOBO CLICK