Iklan

Sabtu, 14 Agustus 2021, 08.22.00 WIB
Last Updated 2021-08-14T15:22:59Z
Catetan Dolan

Sowan Sayyid Abdullah Quthbuddin

 


Memasuki bulan Muharram menjadi teringat sebuah syair dulu ketika masih sekolah SMA. Syairnya kurang lebih seperti ini, “Sum Sholli Sil Zur Aliman ‘Ud Waktahil. Ro’sal Yatimimsah Tashoddaq Waghtasil. Wassi‘ Alal Iyal Qollim Zhufro. Wasurotal Ikhlasi Qul Alfan Tasil. Pasa Sholat silaturrahmi dilakoni...”

Kemarin, berziarah sowan ke Guru Tarekat Qodiriyah di Candirejo Mojotengah Wonosobo, setelah sekian lama tak berkunjung ke maqbaroh Syaikh Abdullah Quthbuddin. Sembari berjalan menuju makam memori ingatan dulu mulai muncul dibenak pikiran, betapa asyiknya dulu berjalan menyusuri desa-desa disapa hangatnya masyarakat sekitar.

Jalan yang berliku dan penuh gronjal granjil-pun dinikmati dengan membawa harapan, dalam arti membawa bekal tum-tuman atau telkem istilah disini dengan diisi nasi megono untuk bekal selama perjalanan sowan ke makam penyebar tarekat di Wonosobo ini. Perlahan mengingat jalanan yang dulu ditapaki banyak yang berubah tentunya dari infrastruktur dan sebagainya, hanya satu yang belum berubah, yaitu kehangatan atau sesrawungan orang desa setempat dan lingkungannya yang masih utuh, saling menyapa-ngampirke. Hal inilah yang menjadi kebahagiaan ketika dolan kedesa-desa dan bakal menjadi klangenan dan kekangenan tersendiri ketika di perantauan.

Setelah sampai di makam Sayyid Abdullah Qutbuddin, dan berjalan tipis tipis mendekat maqbaroh kembali mengingat posisi dan suasana sebelum dipugar seperti saat ini. Dulu merasa asyik ketika ingin mencari tempat wudlu masih mencari ke mbelik atau mata air sampai aliran air di sawah.

Salâmullâhi yâ sâdah minar-Rahmâni yaghsyâkum//'Ibâdallâhi ji’nâkum qashadnâkum thalabnâkum//Tu'înûnâ tughîtsûnâ bihimmatikum wa jadwâkum//Fa ahyûnâ wa a'thûnâ 'athâyâkum hadâyâkum//Falâ khayyabtumû dzannî fahâsyâkum wahâsyâkum. Rekaman jejak masa lalu terlintas muncul kembali dengan lantunan syair diatas ketika sowan Sayyid Abdullah Quthbuddin dulu dengan ditemani gerimis seakan menambah nuansa kekhusyu’an tersendiri dan anggaplah menjadi syahdu juga syair yang terpampang di saka atau penompang atap.

Makam beliau yang juga kholifah Tarekat Qodiriyah terkesan sederhana, masih seperti sediakala dengan dikelilingi keramik dan teralis disekitarnya. Namun, bukti bahwa beliau merupakan orang alim terlihat dari batu nisan yang berbeda dengan lainnya. Di area makam sekitar pun berserakan bebatuan kuno yang boleh jadi itu adalah bagian dari pondok atau masjid yang didirikan beliau di masa lalu.

Sembari pulang seusai ziarah di Candirejo, diperjalanan membayangkan bagaimana peradaban pada masa itu kayaknya asyik dengan melihat kepingan saja merasa bersyukur semoga kita semua dapat meneruskan perjuangan dari leluhur masa silam, dengan cara mendokumentasikan atau menggali peran beliau untuk bekal yang akan mendatang sebab tentu banyak keilmuan yang bisa digali dari sebuah peradaban.

Nah, tulisan ini menjadi tahaduts binnikmah mengingat peristiwa kala itu dan sebagai catatan diantara puzzle berceceran yang terus menerus dicari pasangan per kepingnya agar menjadi kesatuan cerita yang menarik dan utuh. Wallahu a’lam bishowab.