Menyelami Psikologi Suryomentaram
Cari Berita

Advertisement

Menyelami Psikologi Suryomentaram

Kamis, 16 April 2020




PSIKOLOGI SURYOMENTARAMAN
Oleh: Afthonul Afif
Penerbit: Ircisod
Tebal: 238 hlm
Tahun terbit: 2020
ISBN: 978-623-7378-30-3

Dalam khasanah pemikiran Jawa, Ki Ageng Suryomentaram merupakan sosok yang istimewa sekaligus langka, bukan karena sejarah hidup dan kiprah politiknya yang diselubungi banyak misteri hingga hari ini seperti yang disinggung oleh Bonneff dalam risalahnya, melainkan karena pemikiran-pemikiran yang dia wariskan sangat berharga. 

Dia membangun pemikirannya dari bawah, dari pengalamannya sendiri, yang kemudian dikerangkai dengan model penalaran serta metode yang juga dia kembangkan sendiri, serupa dengan cara para pemikir besar dunia dalam merumuskan gagasan-gagasan mereka. 

Orisinalitas pemikiran Ki Ageng ini dengan jelas dapat kita lihat dari kesanggupannya dalam merumuskan pemikiran-pemikirannya tanpa harus merujuk langsung pada tradisi-tradisi pengetahuan sebelumnya atau meminjam gagasan-gagasan pemikir lain untuk memperkokoh bangunan pemikirannya sendiri. 


Ki Ageng Suryomentaram adalah seorang spiritualis pembaharu dalam olah kebatinan Jawa, salah satu pemikir terbesar Nusantara. Pemikirannya yang universal menjangkau banyak jiwa hingga Presiden Soekarno pun berguru kepadanya.

Tidak berlebihan kiranya kita menyebut bahwa pemikiran Ki Ageng merupakan dobrakan yang revolusioner terhadap tradisi pengetahuan dan spiritualitas Jawa yang berkembang waktu itu (bahkan mungkin hingga sekarang), yang sarat nuansa klenik dan penalaran irasionalnya.

Orientasi pemikiran Ki Ageng yang rasional tercermin dalam kepribadiannya yang menolak keras segala bentuk pemujaan terhadap figur dirinya serta pemikiran-pemikirannya (sebuah konsistensi serta kesederhanaan sikap dari sosok cendekiawan ideal yang semakin langka kita jumpai akhir-akhir ini). 

Ki Ageng sendiri lebih menginginkan orang-orang mengenal pemikiran-pemikirannya ketimbang sosok dirinya sebagai guru yang menyampaikan ajaran-ajaran tertentu. Itulah sebabnya mengapa dia menyebut ajarannya sebagai "thukulan jagad" atau sesuatu yang tumbuh begitu saja di alam semesta: ajaran ini tidak dimiliki siapa-siapa justru karena ia milik siapa saja. Jika ajaran ini berguna ia akan tumbuh subur, dan jika tidak berguna ia akan dilupakan dan lama-lama mati.


Ki Ageng mengajak kita untuk membebaskan diri dari kungkungan rasa subjektif yang senantiasa gelisah karena sibuk menilai, menyambut hidup dengan damai tanpa kepura-puraan. "Saiki, kene, ngene, aku gelem. Sekarang, di sini, dalam keadaan seperti ini, aku menerima apa pun sepenuh hati."


Semangat yang diusung oleh Ki Ageng Suryomentaram adalah mengajak kita untuk berpikir rasional. Namun, rasionalitas Ki Ageng memiliki corak yang agak berbeda dengan rasionalitas Barat secara umum yang angkuh dan kaku. 

Kawruh Jiwa adalah sistem pengetahuan rasional yang memiliki ciri reflektif, karena di dalamnya terliput dimensi rasa atau afeksi, kapasitas psikologis yang dalam tradisi Barat terbedakan secara tegas dengan rasio. Jika rasionalitas Barat berciri self-centered maka rasionalitas Kawruh Jiwa bersifat relationship-centered, karena ciri akomodatifnya yang menempatkan rasa orang Iain sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya mencapai kebenaran dan kebahagiaan.


 
"Orang baru dapat menghargai pengalaman bahagianya ketika kebahagiaan telah berlalu"
(Aftonul Afif -  Psikologi Suryomentaram)