Atlas Wali Songo: Fakta Sejarah Walisongo
Cari Berita

Advertisement

Atlas Wali Songo: Fakta Sejarah Walisongo

Jumat, 24 April 2020




Judul Buku: Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah.
Penulis: Agus Sunyoto
Penerbit: Pustaka IMaN
Tahun Terbit: Juli 2012
ISBN: 978-602-8648-09-7
Halaman: XII dan 406 halaman

Jika Anda membaca Ensiklopedia Islam yang tujuh jilid dan mencari informasi tentang Wali Songo, dijamin tidak akan menemukannya. Itu artinya, pada masa depan--kira-kira 20 tahun ke depan Walisongo akan tersingkir dari percaturan akademis karena keberadaan mereka tidak legitimate dalam Ensiklopedia Islam. 

Walisongo ke depan akan tersingkir dari ranah sejarah dan tinggal mengisi ruang folklore sebagai cerita mitos dan legenda. Anehnya, di dalam Ensiklopedia Islam itu tercantum kisah tiga serangkai haji: Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang sebagai pembawa ajaran Islam (Wahabi) ke Sumatra Barat. Itu berarti, anak cucu Anda kelak akan memiliki pemahaman bahwa Islam baru masuk ke Nusantara pada tahun 1803 Masehi, yaitu sewaktu tiga serangkaihaji itu menyebarkan ajaranWahabi ke Sumatra Barat.

Dalam serba keterbatasan segala hal, dengan adanya buku ATLAS WALI SONGO dengan pendekatan multidisiplin: historis; arkeologi; aetiologis;  etno-historis, dan kajian budaya dapat terselesaikan.  Isi buku ini sangat membumi dengan proses sinkretisasi-asimilatif dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Atlas Wali Songo (AWS). Banyak yang ingin saya ungkapkan mengenai buku ini. Buku ini termasuk text book. Bukan novel. Bukan pula bacaan ringan. Buku ini padat. Berat. Penuh dengan ilmu sejarah. Jika Anda penasaran bagaimana bisa agama Islam menjadi dominan di negeri ini, buku ini jawabannya.

Dalam buku ini penulis menjelaskan dengan sangat detail bagaimana agama Islam disebarkan dengan cara yang amat sangat rapi, terstruktur, sistematis, merasuk ke dalam budaya masyarakat nusantara saat itu yang dikenal memiliki karakter yang cenderung kaku. Dibahas di beberapa bab awal buku ini bagaimana kondisi masyarakat nusantara sebelum masuknya Islam. Ada satu fakta yang akan membuat pembaca terkejut.

Kemudian buku ini berusaha menjawab keraguan banyak orang mengenai kebenaran adanya Walisongo. Karena sesuai dengan apa yang ditulis KH Agus Sunyoto dalam buku ini, sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia berusaha dipelintir oleh oknum tertentu untuk seakan menghilangkan jejak para Walisongo. 

Salah satu bukti adalah tidak dicantumkannya sedikit saja perihal Wali Songo di dalam buku Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve. Kalau Wali Songo tidak pernah ada, bagaimana mungkin berbagai tempat yang diyakini sebagai makam mereka masih ramai diziarahi oleh umat muslim Indonesia hingga saat ini? 

Buku ini menyajikan informasi tak hanya tentang hal yang selama ini jamak dianggap Wali Songo. Buku ini secara informatif menunjukkan bahwa Islam sebelumnya telah hadir dalam dakwah para ulama sejak Syekh Subakir di masa Mataram Hindu, Syekh Samsyudin Wasil Kubro di masa kerajaan Kediri sampai juga Fatimah Binti Maimun. 

Namun, berbeda dengan karya profesor Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII yang menyebut peranan Islam masa Sriwijaya, buku Atlas Wali Songo tak menyebut sama sekali sumber-sumber sejarah dari berita dan kronik Cina yang menjelaskan bahwa terdapat duta-duta Sriwijaya yang beragama Islam dan bernama Arab dalam menjalankan misi diplomatik antara Sriwijaya dengan Cina.

Sumber-sumber analisanya menarik dan komplit sejak serat, babad sampai inskripsi. Ilustrasi dan fakta-fakta dalam bentuk gambar maupun foto asli sedikit banyak mampu menunjukkan detil bahwa Wali Songo bukanlah legenda ataupun cerita rakyat. Tapi analisa sejarahnya tak menjadikan arah kajian sejarah untuk fokus pada suatu pembuktian fakta.

 Babad dan serat yang dalam monologi sejarah modern tak lebih dianggap sebagai artefak sejarah nampaknya masih menguat dalam fokus kajian buku ini. Analisa lintas sektoral dan perdebatan wacana dalam babad dan serat yang tercampur dengan mitos nampaknya dibiarkan sebagai penguatan sejarah.

Buku ini mengingatkan saya pada isi pelajaran sejarah ketika  dulu yang menyebutkan bahwa agama penduduk pribumi nusantara sebelum masuknya agama Hindu maupun Budha adalah dinamisme dan animisme. Sebuah aliran kepercayaan yang seperti menuhankan benda-benda (dinamisme), atau kepercayaan terhadap para leluhur (animisme). Namun ternyata kepercayaan animisme dinamisme tersebut pada dasarnya adalah sebuah kepercayaan kuno asli nusantara yang belum pernah saya dengar hingga saya membaca buku AWS. Kepercayaan tersebut bernama kapitayan.
Tata cara sembahyang agama kuno kapitayan mengikuti aturan-aturan khusus. Pertama-tama, ruhaniwan yang sembahyang melakukan Tu-lajeg, berdiri tegak, menghadap Tutu-k (lubang ceruk) dengan kedua tangan diangkat ke atas menghadirkan Sanghyang Taya (simbol tuhan dalam kapitayan) di dalam Tutu-d (hati). Setelah merasa Sanghyang Taya bersemayam di hati, kedua tangan diturunkan dan didekapkan di dada tepat pada hati. 

Posisi ini disebut dengan Swa-dikep, yang bermakna memegang ke-aku-an diri pribadi. Proses Tu-lajeg ini dilakukan dalam tempo relatif lama. Setelah Tu-lajeg selesai, sembahyang dilanjutkan dengan posisi Tu-ngkul (membungkuk memandang ke bawah) yang juga dilakukan dalam tempo relatif lama. Lalu dilanjutkan lagi dengan posisi Tu-lumpak (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki). Yang terakhir melakukan gerakan To-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya).

 Dalam melakukan semua gerakan sembahyang yang dilakukan selama sekitar satu jam itu, para ruhaniwan kapitayan berusaha selalu menjaga keberadaan Sanghyang Taya (Yang Hampa) yang sudah disemayamkan di dalam Tutu-d (hati). Tan kena kinaya ngapa. Atau laisa kamitslihi syaiun.

Buku ini membahas kondisi kerajaan nusantara terbesar di masa itu, Majapahit, sebelum masa-masa intens penyebaran agama Islam oleh Wali Songo. Penyebaran agama Islam di nusantara bertepatan dengan semakin kendornya kekuasaan Majapahit. Di awal agama Islam mulai tersebar, banyak pejabat kerajaan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam. Mereka tidak dilarang oleh kerajaan, dan justru diberi daerah kekuasaan tersendiri. Kebijakan inilah yang akhirnya menjadi bumerang bagi Majapahit, disamping juga perang perebutan kekuasaan yang tak kunjung usai.

Buku Atlas Wali Songo ini pula membahas dengan cukup lengkap bagaimana para Wali Songo menyebarkan ajaran agama Islam, dan berhasil mengislamisasi penduduk nusantara. Berbagai metode dakwah para wali dibahas dengan lengkap, termasuk melalui jalur politik, pendidikan, budaya, hingga pernikahan. Karakter masing-masing wali dan cara mereka menyebarkan ajaran Islam dibahas mendetail di masing-masing sub-bab. 

Tak hanya itu, buku ini juga mengungkap bagaimana asal-usul, nasab, serta gerakan dakwah masing-masing wali. Dalam hal ini tak seperti yang bisa kita bayangkan bahwa para wali ini bukan seperti yang ditampilkan di TV dengan gaya silat melawan keburukan, tetapi para Wali songo dengan menulis kitab dan lain sebagainya.

Secara umum menurut saya buku ini sangat bagus. Detail sejarah yang disajikan sangat lengkap. Namun bagi saya, yang menikmati cerita sejarah hanya sebagai sesuatu yang “nice to know” saja, mungkin akan sedikit bosan membaca buku ini. Hal ini tidak lepas dari tujuan utama ditulisnya buku ini yang ingin dibuat sebagai “text book“, untuk meluruskan beberapa sejarah yang sedikit melenceng. Banyak dari buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah, harus direvisi karena beberapa fakta baru yang diungkap oleh KH Agus Sanyoto melalui Atlas Wali Songo.

Tulisan ini saya akhiri dengan kalimat yang bagi saya menarik untuk diungkapkan pada ulasan buku AWS, bahwa buku ini memang tidak akan meningkatkan ilmu kanuraganmu, tapi ia bisa memperluas pengetahuan per-walisongo-an mu.