Pasa, ngepaske rasa
Cari Berita

Advertisement

Pasa, ngepaske rasa

Selasa, 05 Mei 2020



“Sepanjang yang sampean tau, sebenarnya puasa itu apa to lik? Tukas kang Iman.
Tak ada angin tak ada hujan, tak seperti biasanya kang Iman ujug-ujug tanya babagan puasa kepada sahabatnya ini.
“Halah apasih kang, pertanyaanmu kebanyakan definisi kurang solusi heuheu..” lik Slamet menanggapi sepele.
“Puasa adalah sebuah istilah yang kita pinjam dari bahasa Sanksekerta, yakni “Upavasa”. Kata “Upa” berarti dekat dan “vas” berarti hidup.”
“Penggabungan dua kata tersebut memiliki makna yang lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, konon menurut para Resi dan Biksu, kata “upavasa” berarti hidup yang terbiasa dekat dengan Sang Pencipta melalui doa dan berpegang teguh dalam hal tersebut.”
Lik Slamet lalu melanjutkan, “Kalangan spiritualis dulu berpandangan, aktivitas yang menyenangkan fisik jasmani seperti makan, minum serta berhubungan badan sangat bersifat duniawi sehingga dipercaya cenderung menjauhkan atau melupakan kehadiran Sang Pencipta.”
Eh iya ding lik, saya kok sajaknya jadi teringat dengan kalimat begini: “Puasa artinya menahan, membatasi atas kuasa yang kita miliki. Pada bulan ini kita tidak boleh melihat hal-hal yang seharusnya tidak boleh di lihat, tidak boleh mendengar yang tidak elok didengar, mengucapkan kalimat-kalimat kotor yang menyakiti saudara kita.” Kang Iman mengingat-ingat sebuah kalimat.
“Nah loh, sebenernya paham sampeyan kang, sajak bertanya perihal puasa malah.”
“Bukan begitu lik, saya sekedar mengungkapkan kegelisahan saja sebenarnya. Dimana terkadang puasa yang selama kita jalani meski terkadang sepele tapi perlu dimaknai dengan serius. Perlu ngepasne rasa” Tandas Kang Iman.
“sebagaimana puasa yang pada hakikatnya adalah mengerem (menahan) hawa nafsu, saat ini hanya dimaknai dengan menahan lapar dan dahaga. Sehingga ketika adzan maghrib berkumandang, hal itu sudah diapresiasi sebagai bentuk terpenuhinya kewajiban puasa dengan standar sudah menahan lapar dan dahaga. Kalau begitu adanya, lalu di manakah letak spesialnya Ramadlan?” kang Iman melontarkan pertanyaan untuk di ‘analisa’ bersama.
“Iyo ta lik?”
“Wah hiya kang, tahapan kita memang masih segitu, puasa kita sekedar macak puasa, dengan segala kerendahan hati kita harus mengakui kalau kita masih sebatas pengetahuan belaka. Belum menuju ke kedalaman substansi puasa.
“Jadi intinya apa lik?” Tanya kang Iman serius.
Kita adalah hamba amatiran. wkwk Tandas lik Slamet singkat.
Nah! Mereka berdua tertawa bersama.
(bersambung)
Omah Klenik, 6 Mei 2020