Olah Diri Ngolah Ati
Cari Berita

Advertisement

Olah Diri Ngolah Ati

Selasa, 17 Maret 2020


Tatkala lik Slamet sedang duduk duduk di beranda rumah dengan lincaknya, tiba-tiba  kang Iman bercerita tentang keluh kesahnya yang melekat dalam dirinya.

"Waduh, iya ibda' binafsi," kang Iman bergumam. 

"Kok waduh, kenapa kang?" Lik Slamet bertanya.

"Segala apapun mulailah dalam dari diri." Tandas kang Iman lirih, seakan mengingat ingat sesuatu yang penting sedari tadi.

"Sampeyan kenapa kang? Nyeletuk kaya gitu, tumben sekali." Tanya lik Slamet.

"Ini loh lik, saya lagi mengingat ingat perjalanan kemarin ke suatu daerah di dekat gunung ciremai. Tempatnya sejuk, tenteram, aman damai sekali lik, nyaman pokoknya kalau buat liburan apalagi tinggal, nyaman kaya sama dia, heuheu". Kang Iman, bercerita tentang perjalanan sepi-ritualnya.

 "Lha, terus apa yang sampeyan dapatkan kang? Atas rihlahmu itu? Hikmah, tadabbur, tafakkur apa?".

"Yaa jelas banyak lah lik, saya mendapat pengalaman baru, terus tentunya sedulur anyar je, tapi ada satu ungkapan yang bikin saya kembali tadi mengingat-ingat, bikin bergetar hati saya lik, yang tadi awal saya sampaikan. Ibda' binafsi. Nah itu kang."

"Owalah gitu ya kang. Ee.. Tapi gayamu kang, kata-katamu itu lo ada tambahan bikin bergetar hati, koyo iyahiyaho wae, wqwq."

"Nah, berangkat dari kalimat mulailah dari diri sendiri, saya jadi kaitkan dengan tadabbur saya tentang ayat Wal tandhur nafsun ma qaddamat lighod.. "

"Pada Surat Al Hasyr ayat 18, sebagaimana Allah menyapa orang-orang yang beriman, bertaqwa agar ‘tandhur nafsun’ mengaca diri dari suatu hal yang telah dilakukan dengan ‘ma qaddamat lighod’, apa yang terjadi esok nanti.

 Lalu perintah Allah untuk bertaqwa dan Dia pertegas sifatnya sebagai Yang Maha Mengetahui apa yang dilakukan hambaNya."

"Lanjut mengenai kata nafs, yang sampeyan temukan gimana kang? Tentang arti nafs, adalah diri." Lik Slamet memantik obrolan yang semakin asyik menyelingi gemericik air kolam depan rumahnya. 

Begini lik, menurut yang saya dengar dari Yai Kholil, "Nafs (diri, pdibadi) yang hakiki adalah yang berorientasi pada rohaniah. Ketika basyar (tubuh) turun dengan membawa qalbu (jantung), maka ruh turun dengan membawa qalbu yang mempunyai arti hati nurani.

 "Keduanya pun harus memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain. Untuk menciptakan keterkaitan itu maka diperlukan ikhtiar dengan membersihkan qalbu dan menumbuhkan mahabbah, kecintaan kepada Allah. Inilah yang disebut dengan tasawwuf. Lik, begitu..".

"Nah dalam bahasa Psikologi adalah salah satu bagian dari ilmu tentang diri, dan kalau mau membahas dari pandangan barat sampai timur kopi dua gelas gak cukup lik" heuheu.. Kang Iman nyeletuk, mengode gelas kopinya yang tinggal ampasnya.

"Oalah sampeyan kang, kalau mau nambah kopinya lagi ngobrol dong ngobrol, untung saya peka kang ini." 
"Bentar tak buatin lagi" tukas lik Slamet masuk rumah untuk buat kopi lagi.

***

"Nah, kita lanjut lagi lik mumpung kopinya sudah datang ini, mantap mantap pokoke.. Heuheu."

"Dalam mengolah diri pun ada tokoh yang bernama Ki Ageng SuryaMentaram punya teori tentang psikologi jiwa, kawruh jiwa, psikologi kebahagiaan yang di ajarkan oleh Syaikhul Akbar Suryo Mentaram. Perihal ini kita bahas lain waktu lik wkwk."

"Tetapi terkait dengan nafs saya makjegagik, mengingat tentang mulat sarira, meski hal ini sering saya sampaikan tapi tak apalah, bisa jadi bahan yang menarik kita bahas kembali lik."

"Mulat sarira merupakan konsep untuk sadar, dan kembali, menemui (bukan menemukan) diri yang sejati. Kata “menemui” yang berarti bertemu dengan yang selalu ada, berbeda dengan kata “menemukan” yang berkonotasi mendapatkan dari pencarian akan sesuatu yang hilang. 

Sebagaimana qaul yang cukup populer dalam dunia tasawuf, “Man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu”. Artinya, “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya”.

"Tentunya banyak ragam perspektif dari makna mulat sarira. Dari konstelasi maknanya kita bisa sinau memadupadankan akal, pikiran, dan logika dalam mengevaluasi diri.

Apabila dikaitkan dengan diri, semua berawal dari kesadaran untuk terus-menerus mengamati dan menerima sepenuhnya unsur yang ada dalam diri kita, yakni fisik (raga), nonfisik (hawa nafsu, pikiran, emosi, ego), dan metafisik (jiwa)."

Monggo kang, tempe kemule kalian disambi, sampeyan semenjak pulang dari perjalanan sepiritual kemarin jadi nambah cerdas kang" ejek lik Slamet.
Wah siap lik, saya ra ewah-ewuh tenang, tapi kalimat terakhirmu itu bikin saya ingin bilang: uwasuwook..
Wkwk.

Bersambung..

Suryalaya, 14 Maret 2020