Menapaki Kedaulatan Suta Naya Dhadhap Waru
Cari Berita

Advertisement

Menapaki Kedaulatan Suta Naya Dhadhap Waru

Minggu, 16 Februari 2020


“Sapen” sering diartikan; sarang penyamun atau tempat orang memelihara sapi. Ada juga yang mencocokologinya dengan bahasa arab: safinah. Padahal, aslinya, dalam buku "Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan" (2017) karya Iman Budhi Santosa ini, “sapen” itu nama pohon kuno.

 *Pometia tumentosa* nama latinnya. Sapen termasuk pohon raksasa rimba di Jawa. Sekarang sudah jarang atau bahkan tidak lagi ditemukan. Bisa jadi karena sudah tidak ada yang kenal. Sebutan lainnya Pohon Jagir. Tingginya mencapai 40-50 m.

B“Sapen” sering diartikan; sarang penyamun atau tempat orang memelihara sapi. Ada juga yang mencocokologinya dengan bahasa arab: safinah. Padahal, aslinya, dalam buku "Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan" (2017) karya Iman Budhi Santosa ini, “sapen” itu nama pohon kuno.

*Pometia tumentosa* nama latinnya. Sapen termasuk pohon raksasa rimba di Jawa. Sekarang sudah jarang atau bahkan tidak lagi ditemukan. Bisa jadi karena sudah tidak ada yang kenal. Sebutan lainnya Pohon Jagir. Tingginya mencapai 40-50 m.

Besar batangnya bisa mencapai 130 cm. Batang kayunya berbentuk tiang tetapi agak terpilin. Kulit batangnya beralur-lebar dan dalam. Kayu Pohon Sapen kuat dan awet. Jika baru ditebang atau dipotong, kayunya berwarna merah muda, setelah itu memudar kecoklatan, lalu menjadi kelabu.

Buku ini berisi 330 lebih uraian mengenai pohon-pohon di Jawa, nama latinnya, kayunya, kegunaannya, dan fungsinya. Juga ditambahkan dengan uraian singkat tentang tumbuhan yang dijadikan sebagai nama tempat dan ungkapan cantik dalam peribahasa. Tebal buku: 478 halaman.

 Belum termasuk kata pengantar dan daftar isi.esar batangnya bisa mencapai 130 cm. Batang kayunya berbentuk tiang tetapi agak terpilin. Kulit batangnya beralur-lebar dan dalam. Kayu Pohon Sapen kuat dan awet. Jika baru ditebang atau dipotong, kayunya berwarna merah muda, setelah itu memudar kecoklatan, lalu menjadi kelabu.

Dalam pemaparan penulis buku ini, Pak Iman menjelaskan bahwa buku ini pada dasarnya masih berkaitan erat dengan buku Profesi Wong Cilik yang ditulisnya pada tahun 1999. Menurutnya, kedua buku tersebut sama-sama berangkat dari usahanya untuk mencatat keberadaan rakyat yang seringkali tidak diakui oleh sejarah.

Filosofi ngrimo ing pandum, menurutnya, sangat mengakar kuat dalam kehidupan orang Jawa. ”Sifat pasrah semacam ini secara tidak langsung juga dipelajari dari sifat-sifat dasar tanaman.”

Sebagaimana bangsa agraris, orang Jawa memiliki kedekatan yang cukup personal terhadap tanaman. Proses bercocok tanam yang telah dilakukan secara turun temurun di Jawa, diyakini merupakan awal dari kepercayaan atas kekuatan-kekuatan di luar diri manusia – yang kemudian menjadi dasar kepercayaan animisme.

Dalam Suta Naya Dhadhap Waru, Pak Iman mencatat, sekurang-kurangnya 324 nama tumbuhan dalam bahasa Jawa digunakan untuk nama desa. Ada 3.395 desa atau kelurahan di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. (Hlm. 458)

Banyak juga. Padahal, beberapa nama desa terlewatkan. Misalnya, Desa Gayam di Gurah, Kediri. Ia tak tercatat dalam kelompok pohon gayam (Inocarpus fegiferus). (hlm. 135-136) Sebetulnya, nama itu juga digunakan di Madura. Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Sumenep.

Jika penelusuran nama wilayah diperkecil sampai nama dusun atau kampung, tentu jumlahnya akan lebih banyak lagi. Di Desa Gayam, Gurah, Kediri saja, ada dusun bernama Gayam Barat dan Gayam Timur.

Masih tentang gayam. Buah gayam dapat diolah menjadi keripik gayam. Di Sumenep, keripik itu termasuk pangan khas dan terkenal. Setara dengan kripik gayam dari Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban. Namun, di Tuban tak ada yang tertarik mengabadikan gayam sebagai nama desa.

Gayam adalah tanaman masa lampau. Ia tercatat dalam Serat Centhini (Suluk Tembangraras). Serat itu ditulis tim yang dipimpin oleh Adipati Anom Amangkunegara III (kemudian menjadi Pakubuwana V) pada 1814-1823.

Melalui Serat Centhini itu, orang masa kini dapat mengenali banyak jenis tumbuhan lain yang hidup pada masa lalu. Tak semuanya ada dalam Suta Naya Dhadhap Waru. Contohnya, trawas (Litsea ordorifera). Di tempat lain, ia disebut sebagai brawas. Ia dijadikan sebagai nama kecamatan di Kabupaten Mojokerto.

Pak Iman Budhi Santosa, sebagai penulis, berupaya untuk mengabadikan kedaulatan semacam ini. Hal yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang. Namun, hal ini mestinya dapat dimaklumkan. Karena sudah semestinya wong cilik menuliskan sejarahnya sendiri. Bukan untuk sombong apalagi besar kepala. Tapi semata-mata untuk mempertahankan kedaulatannya.