Cerita Dieng Tahun 1910
Cari Berita

Advertisement

Cerita Dieng Tahun 1910

Kamis, 20 Februari 2020


Ada cerita dari tahun 1910, Dieng

Saya tidak akan mengulang-ulang cerita mengenai ulah penduduk "pendatang" yang menggunakan pondasi dari batuan candi untuk rumah mereka. Agak geser ke situasi yang lebih khusus, Pesanggrahan, Rumah Penyimpanan (baca: Penjualan) Sementara pemerintah Hindia-Belanda.

".... penduduk pribumi bukan satu-satunya pelaku.." Dari catatan Van Erp yang merupakan seseorang yang pernah menangani pemugaran Borobudur. Dimana di sana, banyak orang asing yang mengaku meneliti arca-arca yang tersimpan di Pesanggrahan, yang mana arca-arca itu merupakan koleksi luar biasa dari berbagai tempat di Dieng.

Orang asing tersebut ditawari harga dari arca itu sebesar 5 gulden bila mereka menginginkannya. Si Turis ini pun menyepakati harga, dan ia membawa arca kemudian dikirim ke Wonosobo.

Banyak kasus serupa yang terjadi, baik itu seorang pengunjung resmi ataupun tidak resmi. Arca dan batuan berukir dengan berbagai ornamen mereka beli untuk menambah koleksi rumah pribadi ataupun museum yang mereka miliki.

***
Saya-pun juga pernah mengalami hal serupa, namun ditempat yang berbeda, dimana disebuah galian bekas abu vulkanik ditemukan tulang belulang manusia yang hangus tertanam, tulang-tulang itu seringkali disertai dengan berbagai perhiasan.

Penduduk yang menemukan menyembunyikan hal ini karena takut pada pemerintah (Hindia-Belanda). Pemerintah saat itu melarang mereka memperjual belikan kepada orang lain, dan benda-benda itu diharapkan diserahkan kepada pemerintah untuk diberikan ganti rugi. Namun ganti rugi yang mereka terima sangat rendah. Oleh karena itu, mereka memilih untuk memperjual-belikan secara pribadi tanpa sepengetahuan pemerintah bila menemukan.

Tadi malam, aku ditunjukkan beberapa cincin di pesanggrahan, pemiliknya menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan, dan ternyata dia menyimpan sebuah patung setinggi enam inchi di balik bajunya, terbuat dari emas padat, dan ditempa sangat indah. Ia berkata bahwa ia membeli patung itu dari temannya dengan harga 7 gulden. Ia menawarkan itu kepada saya, namun dengan harga yang berkali-kali lipat. Sebuah hal yang sangat disayangkan memang.

Baru-baru ini saya juga mendapatkan kabar, bahwa ditemukan sebuah batu prasasti dan hendak dijual. Namun ketika di konfirmasi kepada si penemu, ia mengatakan bahwa batu prasasti itu telah ia singkirkan (hancurkan/buang?), karena ia tidak mau mendapatkan masalah dan hukuman untuk kerja paksa di Wonosobo karena menemukan dan menjualnya."
-Monumentak Java, JF. Scheltema-

Dihimpun dari berbagai sumber.