Watu Tulis dan Penambangan Masa Lalu
Cari Berita

Advertisement

Watu Tulis dan Penambangan Masa Lalu

Rabu, 08 Januari 2020



Dieng, sebegitu banyak batu yang tersebar di area seluas hanpir 620.000ha pastilah menyimpan pertanyaan mendasar, darimana asal bahan-bahan batu tersebut? dan bagaimana mengangkutnya?
Junghuhn 160th lalu pernah memberi analisa mengenai hal ini, ia yang paham benar belantara tanah para dewa, mencatat tiap detail permukaan tanahnya. Dan latar belakangnya sebagai ahli botani dan juga geologi yang dengan kakinya sendiri melangkah tiap jengkal tanah yang dikunjungi saat ini merupakan panduan permanen yang masih terus diulang-ulang.
Dieng, permukaan tanah yang saat itu tergenang air danau-danau terbelah dengan kali tulis tepat ditengah-tengah cekungan plateau. Cekungan ini dipagari oleh pegunungan yang menjulang tinggi, Prau, Pakuwaja, Pangonan dan Sipandu.
Kali tulis merupakan salah satu mata air dikaki perahu mengalir dari arah kulon-lor hingga wetan-kidul ke kaki Pakuwaja yang melewati Balekambang, telaga Warna dan kemudian Pengilon.
Alkisah, diceritakan dengan memanfaatkan sungai dan telaga inilah para pekerja mengangkut bahan batu yang akan digunakan sebagai pembuatan candi Dieng. Batu ini ditambang dari gunung Pakuwaja, yang mana bekas-bekas tatalan dan juga bekas potongan-potongan batu besar masih terlihat.
Tambang ini memang berada dipermukaan atas, yang kini menjadi obyek wisata Batu Ratapan Angin. Di atas sini batu kemudian digulingkan kebawah, dipermukaan yang lebih datar, sekitaran telaga Warna. Dari sana nanti perahu-perahu telah menanti untuk mengangkut batu-batu ini yang kemudian dibawa menyusuri mendekat ke area pembangunan.
Perahu merupakan sarana yang mungkin lebih cocok waktu itu, dimana tanah Dieng yang labil tentunya membawa kesulitan tersendiri jika menanggung beban berat dibanding dengan transportasi darat.
Pembangunan ini dan penambangan ini terus berlanjut, dari awal abad 7 masa Syailendra berjaya hingga 6 abad kemudian, dimana para pekerja ini meninggalkan goresan warna berupa 2 angka tahun dan sebuah aksara palawa disela-sela kegabutan kesibukan mereka.
Apakah ini benar? dan pasti? Tentu saja tidak, sejarah hanyalah tafsir yang tergambarkan hanyalah rangkaian-rankaian peristiwa seperti potongan puzlle yang kita bersaha susun. Kalau puzlle ada output yang membahagiakan, sejarah pun sama.
Tentunya masih ada beragam kemungkinan lain, belum tentu penambang. Rangkaian permukaan Pakuwaja terdapat banyak goa-goa alam, sebuah yoni mungil juga pernah ditemukan disana, yang bisa jadi tempat itu juga digunakan sebagai salah satu tempat mengolah spiritual, yang berarti dalam organisme aktivitas di temapt tersebut bukan hanya pekerja kasar, namun juga para Brahmana beserta lainnya.
Maka dari itu, yang jelas sulit terbantah adalah lokasi tambang, batu-batu candi di Plateau memiliki karakter sama persis dengan Pakuwaja. Mungkin Pakuwaja bukan satu-satunya pemasok, tentu masih ada gunung lain di seberang, macam Sipandu, yang menurut desas-desus juga terdapat banyak tatal batu diatasnya.
Boleh jadi, apabila suatu saat nanti batuan pengganti dalam proses pemugaran candi tak harus berasal dari Merapi, yang akan telihat belang bila dipasang dan kontras dengan batu lama karena karakternya yang berbeda. Jika begitu, mungkin mendatangkan batu dari lokasi tambang asli akan banyak membantu dalam kamuflase pemugaran. Mbokan.