Menyelami Buku Saya, Jawa, dan Islam
Cari Berita

Advertisement

Menyelami Buku Saya, Jawa, dan Islam

Rabu, 22 Januari 2020



Buku “Saya, Jawa dan Islam” karya Irfan Afifi adalah manifestasi pemikiran yang kaya dan syarat akan laku suluk menuju proses pengolahan diri.

 Pada akhirnya akan menjadi serumpun gagasan untuk mengenali diri, dan memahami proses keberlangsungan kehidupan, serta menumbuhkan kembali kesadaran bahwa keberadaan ontis manusia serta tujuan teleologis akhirnya selama ia hidup atau berada di dunia ini (hal. 43).

Ajaran Jawa yang oleh kebanyakan orang dianggap memiliki unsur Hinduistik terbantahkan. Ketika temuan Doktor Cornel dalam 500 naskah di keraton Surakarta ternyata hanya 17 naskah yang berbau Hinduisme dan—bahkan terdapat 30 teks yang justru jelas-jelas Islam dalam isinya (hal. 23). 

Pergulatan penulis dalam menemukan atau mengulik keislaman dan kejawaannya adalah proses yang memakan waktu tidak sebentar. Apalagi dengan berbagai pergulatan hati dan pikiran yang kadang terkesan bertolak belakang. 

Lalu bagaimana seseorang yang telah kelewat jauh dan sentimental menjelaskan Islam Jawa ke dalam tiga varian seperti Santri, Abangan dan Priyayi diktat dari Clifford Geertz, atau ketika menjelaskan warisan Islam Jawa setelah terpisahnya Jawa ke dalam dua kerajaan besar, Kasunanan dan Kasultanan.

 Atau bagaimana menjelaskan Jawa yang dulu sebagai aksioma kebudayaan kemudian mengerut menjadi kejawen? Tubuh saya benar-benar semakin bertambah berat (hal. 28).

Buku ini barangkali mewakili pertanyaan mereka yang tumbuh di lingkungan pesantren dalam masyarakat Jawa. 

Bagaimana menjadi Jawa sekaligus menjadi muslim? Apakah keduanya saling berlawanan? Ataukah bisa saling berkoeksistensi? Atau adakah kemungkimam yang lain?

Saya sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh Mas Irfan Afifi dalam buku ini. Islam di Jawa bercorak (melalui) tawasuf yang berpilin dengan tradisi, sehingga jalinan antara keduanya (Islam dan Jawa) hampir-hampir tak terlihat. 

Barangkali ini pula yang membuat Harun Hadiwiyono dalam disertasinya berkesimpulan bahwa Islam di Jawa adalah "lapisan tipis". Atau pandangan Rasyidi, mantan menteri agama, yang menganggap wirid sebagai ajaran sufisme Jawa yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Penyebar Islam di Nusantara, khususnya Jawa, paham betul dengan karakteristik masyarakat Jawa yang gemar dengan tembang dan kuat ditradisi. Sehingga ajaran agama tak jarang diajarkan lewat tembang atau suluk. 

Kita kenal dengan macapat, yang di dalamnya berupa pitutur untuk manusia sejak dalam kandungan hingga masuk ke liang lahat.

 Mulai dari maskumambang (dalam kandungan), mijil (lahir), sinom (muda), kinanthi (yang perlu tuntunan), gambuh (menikah), dhandhanggula (merasakan pahit getir kehidupan), durma (memberi bakti baik pada masyarakat),  pangkur (masa tua), megatruh (sebelum berpisahnya raga dan roh), yang terakhir adalah pocung ( jasad dibungkus kain kafan ). 

Juga dalam buku ini dijelaskan konsep mawas diri atau mulat sarira bukan hanya semacam teori yang disampaikan oleh penulis, dalam hal ini Irfan Afifi menyampaikan apa yang ia ketahui kemudian ia elaborasikan ke dalam sebuah makalah dengan bahasa yang santun dan tanpa menggurui.

Dengan kata lain, buku ini kaya akan sikap mulat sarira seperti pengamalan dari ngelmu rasa. Sehingga segala sesuatu pasti memiliki kesejatian rasa atau rahsa terdalamnya. Karena laku olah diri mengenali “ra(h)sa” terdalamnya adalah sebuah pertaruhan yang berujung pada pertemuan dengan “diri (se)jati”-Nya (hal. 85).

Bersambung...