Jejak Gangsiran Aswatama
Cari Berita

Advertisement

Jejak Gangsiran Aswatama

Kamis, 28 November 2019


Seperti diketahui, kawasan dataran tinggi Dieng terbentuk atas mengeringnya danau kawah gunung api purba. Kawah tersebut selain kering karena faktor alam juga karena campur tangan manusia. Hal ini dibuktikan dengan adanya Gangsiran Aswatama.

Ketika pertama kali dimunculkan kembali oleh H.C Cornelius 1814 komplek area Candi Arjuna masih dalam kondisi tergenang air dan hanya dibiarkan begitu saja. Selang 40 tahun kemudian J. Van Kinsbergen berinisiatif untuk "menyelamatkan" mereka.

 Satu hal cerdas dilakukan oleh Kinsbergen, dia menemukan lubang-lubang sumur dengan diameter sekitar 3 meter dan kedalaman +/-6 meter. Lubang-lubang ini tidak berdiri sendiri, mereka saling terhubung satu sama lain dengan terowongan bawah tanah. 

Namun terowongan tersebut sudah tidak berfungsi karena telah longsor dan tersumbat berbagai macam sampah. Orang berkebangsaan Belanda ini pun melakukan pembersihan dalam terowongan tersebut, dan hasilnya, rumah para dewa Negeri kahyangan ini bisa dikeringkan. Sayang belum sempat menelusuri lebih jauh kemana kemungkinan gangsiran ini bermuara. Santuy slurr.

Kini lubang gangsiran hanya tersisa dua titik, yang lain sudah tertutup atau belum liat dan efeknya, mungkin bisa dilihat. Di kedalaman hanya 1 meter air sudah mengalir deras. Pun juga begitu yang ada dalam sendang Sedayu kompleks Darmasala. Dimana permukaan air sudah terlihat di 1meter dari batas bibir sumur.

 Lalu kenapa sekarang tidak tergenang lagi meski gangsiran sudah tidak aktif? Hal ini dikarenakan ada saluran-saluran air kecil buatan yang dibuat di sekeliling halaman candi, sungai-sungai nilah mungkin yg turut andil mengurangi debit air "danau".

Menjadi sebuah tanda tanya dan pertanyaan, bagaimana orang dahulu bisa membangun Candi jika di bawah tanahnya saja sudah mengalir air? Atau mungkin sudah terjawab diatas, bahwasanya mereka membuat lubang galian dan terowongan di kedalaman 6 meter, lalu kenapa terowongan bukan sungai? 

Hal ini mungkin karena dengan terowongan mereka masih bisa memanfaatkan permukaan tanah di atasnya dengan bebas membangun tanpa takut titik bangunan terbatasi oleh sungai, dan juga yang kedua sasaran mereka adalah air bawah tanah, bukan dipermukaan.

 Dengan begitu cukup untuk membuat sebuah sumuran candi ataupun pondasi bangunan tinggi, serta tidak aktifnya gangsiran Aswatama juga ikut "menyelamatkan", area dataran yang besar kemungkinan masih banyak situs, dimana hal ini memaksa masyarakat penduduk Dieng membuat bangunan atau perumahan ditempat yang lebih tinggi. 

Bersambung..

*dikutip dari berbagai sumber
Men kaya tulisan nganu~