Filosof Juga Manusia
Cari Berita

Advertisement

Filosof Juga Manusia

Selasa, 19 November 2019


Judul                             : Filosof Juga Manusia

Pengarang                  : Fahrudin Faiz

Penerbit                      : Masjid Jendral Sudirman (MJS)


Halaman                     : 202 halaman

Pada buku Filosof Juga Manusia ini, Fahrudin Faiz memperkenalkan kita pada tokoh-tokoh filsafat Barat. Dari pengantar buku ini saja telah bisa kita menilai sosok Fahrudin Faiz itu adalah sosok yang humoris, andaikan Fahrudin Faiz adalah filosof, karena ia telah menekuni filsafat hingga S3, maka alangkah terkejutnya kita menemukan sosok penulis filsafat yang jenaka. 

Filosof Juga Manusia, dari judul buku ini kita sudah tahu kemana arah pembicaraan buku ini. Ya tentang filsafat. Filosof adalah subjek dari pelaku filsafat, alias dialah yang cara hidupnya penuh dengan filsafat. Baik cara berpikirnya maupun perilaku dan sikapnya semuanya tak lepas dari filsafat. Seperti orang yang penuh dengan rasa ingin tahu dan mempertanyakan apapun yang terjadi di sekelilingnya. 

Efek dari filsafat adalah terjawabnya persoalan-persoalan hidup dan lahirlah pikiran-pikiran baru untuk menjawab problema kehidupan manusia, yang manusia-manusia berhasil memecahkan itu kebanyakan adalah mereka yang berkutat di dunia filsafat, sebut saja filosof.

Bagi sebagian kita mungkin ada yang minder dengan istilah filsafat atau filosof. Filsafat identik dengan orang nyeleneh dan kayak gak ada kerjaan, mempertanyakan hal yang sudah menjadi kebiasaan dan pemecah kebekuan. Lalu filosof juga identik dengan orang yang urak-urakan, gak mandi-mandi dan tampangnya kayak orang lagi mikir keras. 

Begitulah kebanyakan orang menilai filsafat dan filosof. Ada juga yang menganggap filsafat itu sebagai ilmu yang angker, padahal semua ilmu itu angkel lo menurut setiap orang, misal bagi anak pesantren ilmu matematika itu adalah angker banget, biarlah disuruh hafal ini dan itu daripada belajar matimatika. 

Bagi anak umum ilmu bahasa arab itu angker, terlalu banyak kaedahnya, biarlah mereka menikmati kerumitan soal fisika dibandingkan harus berhadapan dengan bahasa arab. Nah, mulai sekarang kita harus adil lo sama filsafat.

Bisa dikatakan literature tentang tokoh-tokoh filsafat sangat minim di Indonesia, masih banyak buku filsafat yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, baik filsafat Barat maupun filsafat Islam.

Pada bagian awal buku ini Fahrudin Faiz sedikit menggambarkan kepada kita apa itu filsafat dan bagaimana itu berpikir filsafat. Lalu baru ia menjelaskan tentang tokoh-tokoh filsafat barat walau masuk disana Mahatma Gandhi. Disusun menurut abjad W hingga A. Lucu bukan?

Bagi peminat filsafat, acap mereka menganggap para filosof seperti utusan Tuhan, Nabi. yang luput dari salah. Itu disebabkan karena pikiran-pikiran mereka yang brilian dan menginspirasi hingga ribuan tahunnya. 

Nah, disinilah peran Fahrudin Faiz memanusiakan para filosof ini. Ia mengupas masing-masing kepribadian para filosof ini, baik perilaku baik dan buruknya, hingga para filosof ini yang dianggap nabi tadi menjadi manusia yang tak luput dari khilaf dan dosa. 

Berbagai perilaku negatif filosof disebut secara terang-terangan, namun Fahrudin Faiz tidak mengatakan bahwa apa yang ia sampaikan adalah benar, sebab buku ini adalah catatan beliau saat hendak mengajar di Masjid Jendral Sudirman, Yogyakarta pada ngaji filsafat setiap rabu malam.

Walau tak seluruh filosof digambarkan secara detail, namun kita bisa menilai bagaimana kehidupan para filosof tersebut. Disini tidak terlalu dijelaskan pikiran-pikiran filosof itu bagaimana, lebih kepada kehidupan dan kepribadian saja.

Filosof Juga Manusia, dari judul buku ini kita sudah tahu kemana arah pembicaraan buku ini. Ya tentang filsafat. Filosof adalah subjek dari pelaku filsafat, alias dialah yang cara hidupnya penuh dengan filsafat. 

Baik cara berpikirnya maupun perilaku dan sikapnya semuanya tak lepas dari filsafat. Seperti orang yang penuh dengan rasa ingin tahu dan mempertanyakan apapun yang terjadi di sekelilingnya.