Salahkah Batu Candi di Kuburan ?
Cari Berita

Advertisement

Salahkah Batu Candi di Kuburan ?

Selasa, 01 Oktober 2019


Batu Candi di Kuburan, salahkah? Pengaburan sejarah? Penghancuran budaya?
Sebenarnya tak seperti itu juga, mereka cuma tidak tahu dan hanya melanjutkan "prasangka" yang mereka kira sebelumnya. Bisa jadi pendahuku mereka juga sepenuhnya sadar jika itu batuan candi. Namun candi yang mereka temui sudah tidak berbentuk, luluh lantak, berserakan, berhamburan, bahkan sampai ambyar(kalau boleh meminjam bahasa Lord Didi Kempot).

Sebenarnya, pandangan mereka dahulu candi adalah makam, mereka bingung untuk lahan apa yang pas digunakan untuk makam, lahan kosong masih bisa dimanfaatkan, untuk rumah, kebun, sawah, pos kampling, kafe sampai baitul karaokean Jadi daripada bingung, mereka memanfaatkan "makam" yang sudah ada. 

Menurut tulisan yang dilansir oleh salah seorang ngarkeolog katakanlah, mulanya bahkan dahulu, bahwa pandangan mengenai candi adalah makam atau candi sama dengan makam.

 Punden atau tempat keramat pun begitu, mereka menemukan batuan kuna atau lawas yang sudah hancur, yang mereka tidak bisa menata kembali kemudian dikumpulkan dijadikan satu pada satu titik tempat, kemudian di keramatkan. 
 Bukan untuk hal negatif sebenarnya, tapi itu adalah bentuk usaha mereka untuk menghormati pendahulu yang dulunya ada ditempat mereka. Menjadi wujud dari bagian menghormati mentakdhimi para leluhurnya dengan sekadar kemampuannya.

Di area cagar budaya Trowulan misalnya, banyak candi yang terselamatkan karena lokasi sekitarnya telah berubah menjadi makam atau ditempati makam. Salah satu contohnya Candi Tikus. 

Mungkin itu memang merupakan cara orang dulu menyelamatkan peninggalan leluhur, yaitu dengan mempertahankan kekeramatannya. Di tempat keramat pasti ada rasa takutnya orang mau berbuat macam-macam, sebab kuwatir kena walat.

Lain halnya yang ada di lereng Dieng, yang di temukan sebuah lempengan batu dengan corak tulisan, anggap prasasti begitu, ketika di temukan warga pada saat menggali untuk memakamkan warga namun linggis yang dibuat mengenai batu tersebut.
 Singkat cerita batu itu pun di bawa pulang untuk disimpan, namun ada suatu kejadian anak dari seorang yang menyimpan batu itu pun jatuh sampai tiga kali, nah dengan kejadian tersebut batu yang tadinya di simpan di kembalikan lagi ke tempat semula.

Dari kejadian tersebut sebenarnya menyimpan sebuah pesan bahwa dengan adanya pemikiran-pemikiran di luar batas kemampuan kita malahan dapat menjadi cara juga dalam menjaga situs-situs cagar budaya atau makam yang menyimpan nilai sejarah yang tinggi, tanpa menggunakkan security atau CCTV, tetapi dengan kesadaran di luar nalar yang perlu kita gali dengan pola pikir ilmiah yang bagaimana? dan kalau kuburan atau petilasan dlsb adalah bagian dari museum, sejatinya tak salah.

Nah, terus apa yang perlu dilakukan? Tak masalah, paling tidak dengan memberi informasi bagaimana candi dimasa kini. tak perlu cemas atau sampai ngotot apalagi menyalahkan bahkan menganggap perbuatan jahat atau sampai lagi menganggap mereka bodoh. Mereka melakukan apa yang terbaik meskipun bagi sebgaian yang lain menganggap kurang baik.

"Bukan tulisan ngilmiah, dan bukan pula ahlinya ahli hanya sekedar mencoba memahami."


(Dikutip berbagai sumber)
Men dikira nganu..