Jejak Sang Kalamakara yang Merana
Cari Berita

Advertisement

Jejak Sang Kalamakara yang Merana

Kamis, 26 September 2019


Dalam cerita Hindu dan Budha, KALAMAKARA itu awalnya berupa dewa yang tampan. Karena suatu kesalahan, ia mendapat hukuman dan kutukan dari Sang Hyang Widi, kemudian ia berubah menjadi raksasa yang buas dan setiap binatang yang dijumpainya dimakan dan diterkamnya. Dan terakhir memakan tubuhnya sendiri dan tinggal kepalanya.

Kalamakara adalah sebuah hiasan pintu masuk pada candi yang memiliki fungsi sebagai pengusir roh-roh jahat. Pada bangunan candi Borobudur kalamakara juga digunakan sebagai Jaladwara (Saluran air) yang terletak di sudut-sudut bangunan candi Borobudur.

Namun untuk Kala yang ini berbeda, dia bukan seperti kala lain yang berfungsi pula sebagai doorpall.

 Dia tipis, ketebalannya tak lebih dari 8cm. Dibawahnya tersadapat dua slot pipih dan memanjang di ujung kiri kanan, dan bagian belakang melengkung berpahat kasar tak beraturan, artinya dia diletakkan begitu saja tanpa batu penahan langsung dibelakangnya.

Mungkin jika ukurannya kecil, dia bisa menjadi antefik keliling, seperti banyak ditemukan di candi lain. Tapi dia besar 100x50cm, ukuran umum untuk kala relung bagi candi berskala sedang. Disini ada 2 kala seperti ini yang identik, yang jika benar ia kala relung, masih minus satu dan belum ketemu.

Dieng salah satu tempat terkaya akan keragaman arsitektur candi, usia aktif yang hampir 9 abad membuatnya seolah tak ada candi "kembar" seperti halnya kompleks percandian lain tempat.

Disini masing-masing bangunan memiliki karakter berbeda, yang jelas membuat pusing kepala jika salah reka ulang tata letaknya.
Sama halnya "kala" ini, dari delapan candi yang tersisa, tak satupun menunjukkan jejak asal sang kala.

Bersambung..
(Dikutip dari berbagai sumber) so sweet!