Menelusuri Jejak Peradaban Dieng
Cari Berita

Advertisement

Menelusuri Jejak Peradaban Dieng

Kamis, 19 September 2019

foto: facebook 

"Masa lalu bukan lah sebuah hal yang wagu, tetapi masa lalu adalah sebuah pelecut untuk peradaban masa depan. Mari cawe cawe tandang memasa depankan masa silam paling tidak dengan merasakan senang ketika jejak peradaban masa lalu kembali muncul secara sengaja maupun sengaja dengan beragam washilah." 


-Wonosoboclick-

Pesanggrahan, dari terminal arca hingga terminal antar kota
"Di dataran depan setidaknya ada puluhan ribu batu berserakan, tertumpuk penuh harap. Sebagian besar digunakan penduduk dusun untuk pagar, pondasi dan juga bangunan pesanggrahan. Mungkin disana kita tidak lagi menemukan reruntuhan, namun hanya batu-batu yang menutupi dinding Gunung, yang bisa jadi adalah kelompok candi atau tempat tinggal para pendeta utama"
Begitulah setidaknya kalimat pembuka Brummund ditahun 1854 ketika menjelaskan isi dari sisi timur dataran tinggi Dieng. Batu yang menutupi dinding Gunung yang ia maksud adalah watu kelir, dimana satu dekade sebelumnya petualang Jerman masih menyaksikan dinding ini memiliki 5 teras dengan masing-masing ketinggian dinding mencapai 5-7m dari kaki hingga puncak bukit.
Tepat diteras paling atas bukit itu terdapat dua kelompok candi, kelompok pertama terdiri dari 3 candi dan sebuah batur. Dan kelompok kedua memiliki dua buah candi. Keduanya sudah lama sirna, namun jejak-jejak kekunoan masih banyak tersisa.
Kelompok pertama kini dikenal dengan nama sitihinggil, yang mana dibawahnya disangga watu kelir yang masih kokoh tegak berdiri. Kelompok kedua berada diseberang sisi utara, terpisahkan oleh jalan raya. Dua candi yang disebut kini telah berdiri dua tempat khusus. Candi pertama menjadi gedung SMP dan candi kedua menjadi area pemakaman umum. Dari puncak, jika menengok ke lereng timur akan bertemu tuk bimo lukar, dahulu terdapat dua mata air, berbentuk kolam persegi kecil. Dimana untuk menuju kebawah satu-satunya akses adalah tangga batu sempit yang menurun curam yang saling bertautan.
Disisi lereng barat puncak inilah Pesanggrahan berdiri, tempat ini dulunya adalah satu tempat peristirahan untuk orang-orang eropa yang berkunjung ke Dieng. Tempat ini juga sebagai penampungan arca, cukup lama, hingga tahun 1990an kemarin. Penduduk berusia paruh baya Dieng masih dapat dengan jelas menceritakan seperti apa bangunannya. Kurang lebihnya masih seperti yang dilihat oleh Brummund, yang mana lantainya terdiri dari batuan candi. Areanya cukup luas, terakhir yang penduduk ingat juga terdapat lapangan tenis disebelahnya.
Masa berganti, seiring perkembangan wisata dan kebutahan, lokasi ini dibongkar. Pesanggrahan yang dahulu sebagian lahan dibangun Pukesmas, sisanya digunakan sebagai terminal juga pusat oleh-oleh. Arca-arca yang tersimpan dipindahkan ke musium yang telah disiapkan.
Kini, semakin ramainya wisata dan kebutuhan Dieng, pusat oleh-oleh yang sekaligus terminal itupun kembali ditertibkan. Kebersihan dan kesemrawutan transportasi menjadi masalah utama, yang kedepan akan lebih dirapikan. Proyekpun berjalan, banguanan-bangunannya yang berdiri dirobohkan, karena mendatang akan dibuat dua lantai penggalian dengan alat berat untuk calon pondasi dibutuhkan.
Dari sini harapan dihati muncul, seperti harapan dapat mengetahui sisa-sisa pesanggrahan dahulu ataupun pondasi-pondasi penduduk yang diceritakan Brummund dimasa lampau. Dan benar, 50cm dari permukaan tanah batu-batu andesit tertata rapi, pelan-pelan terangkat dengan cakar besi. Batu-batu ini tanpa jeda, tiap galian pasti menemukan. Sebagian besar tanpa ornamen, namun dapat dipastikan jika ini benar kompinen candi atau sejenisnya, diantaranya batu-batu balok lis juga lis padma, yang lain merupakan balok-balok berpermukaan rata.
Batu ditumpuk 2-3 lapis, yang menhadap atas adalah batu berpermukaan rata atau batu yang semestinya menjadi kulit, yang menandakan batu ini tidaklah di tempat itu, namun di pindahkan dan dikumpulkan dari banyak tempat dan ditata sedemikan rupa untuk mendapatkan permukaan rata.
Masa terus berganti, jaman tetaplah berjalan, kehidupanpun juga akan berkembang. Batu-batu ini jelas tidak bisa di buat apapun, sebenarnya pula mereka juga bukan struktur mula. Tapi bukan berarti dibiarkan, kembali dipendam atau bahkan dihancurkan. Batu ini tetap kami kumpulkan, mengingat karena mereka memang dimungkinkan dari banyak bangunan candi, boleh jadi satu saat akan berguna untuk bahan pemugaran selanjutnya.
Bagaimanapun Dieng terus berbenah, bisa dibilang Pariwisata adalah penyokong utama. Masyarakatpun perlahan memahami hal itu, pelan-pelan mereka sadar akan bangunan Cagar Budaya, meskipun nanti tak bisa 100% menampakkan bagaimana kemegahan Dieng dahulu. Paling tidak batu-batu ini adalah saksi bisu yang dapat dilihat anak cucu.

(Dikutip dari berbagai sumber)
Men diarani nganu* 
Bersambung ya lurs!