Membaca Srimenanti, dari puisi ke puisi
Cari Berita

Advertisement

Membaca Srimenanti, dari puisi ke puisi

Selasa, 03 September 2019


 Membaca Srimenanti

Membaca buku novel Srimenanti karya Jokpin, sapaan Joko Pinurbo adalah sebuah hal yang baru bagi saya sendiri, setelah sekian dari tulisan tulisan beliau. Perjalanana kepenyairannya mulai dikenal setelah beliau menerbitkan kumpulan puisi Celana (1999). Selain itu, beliau juga andal memproduksi cerpen, hingga tak sedikit karyanya dimuat dalam banyak media massa.
Kegemaran menulis, mengarang puisi beliau tekuni sejak SMA sebuah perjalanan yang tentunya memotivasi untuk tandang selalu pada waktu dan tempat kapan pun dan dimana pun. Tak terikat oleh ruang dan waktu. Menurut tulisan yang berada di punggung buku ini adalah novel beliau pertama.
Penggambaran awal yang di buka dengan perjumpaan di pagi yang basah antara si penyair dengan seorang perempuan muda membuka kisah awal novel ini. perumpamaan yang  di tulis beliau itulah merupakan penggambaran dari puisi Sapardi Djoko Damono “pada Suatu Pagi Hari” Intuisi saya mengatakan, perempuan yang berpapasan dengan saya di lorong sepi pagi tadi berasal dari sejak itu (hal. 2).
 Perempuan itu adalah Srimenanti, dan diceritakan senang melakukan “ibadah melukis”. Sedangkan sang penyair adalah wujud dari penulis sendiri, yakni Joko Pinurbo. Kisah mereka digambarkan secara berbeda dan bergantian, tetapi tetap dalam satu konteks cerita.  Kedua-duanya punya persoalan yang berbeda tetapi kemudian dipertemukan dalam satu gagasan untuk bisa merawat asa dengan tetap mencintai hidup ini.
Penggambaran secara umum novel ini banyak diramu oleh penggalan puisi mbah Sapardi dan Jokpin sendiri sebagai penulis. Maka jangan terkejut jika ketika membaca akan menemukan rangkain cerita yang mengalir dari puisi ke puisi. Puisi di sini begitu diagungkan dan ditampilkan sangat hidup. pokoke mengalir begitu saja.
Sering kali justru penggalan puisi yang ditampilkan lebih banyak menghadirkan imaji visual dan auditif kepada pembaca ketimbang narasi di luar puisi. Puisi-puisi itulah yang secara tidak langsung menjadi ruh dalam cerita Srimenanti. Kendati demikian, tidak diragukan pula bahwa secara keseluruhan permaianan kata yang ada cukup nakal dan sungguh gemilang melahirkan situasi yang optimal bagi pembaca.
Untuk selanjutnya, pembaca akan menyadari betapa penulis dengan masifnya mengajak pembaca untuk percaya kalau “puisi itu menghaluskan jiwa” (hal. 80). Beberapa ungkapan, semisal, “puisi lebih mujarab”, “sebagai sekutu puisi”, “menunaikan ibadah puisi”, adalah cara penulis meninggikan harkat dan derajat puisi. Namun, tentang bagaimana kita bisa atau tidaknya pemuda karena ada baris puisinya yang berbunyi Rayakanlah setiap rejeki dengan ngopi agar bahagia hidupmu nanti (hal.79).
Padahal penggalan puisi itu lebih merupakan guyonan sederhana dalam keseharian hidup manusia, tetapi sekaligus kritik pedas betapa dunia kita sekarang ini sudah terindikasi darurat tertawa, seperti halnya sibuk mempersoalkan ideologi dan kepercayaan. Dalam  memaknai suatu puisi tetaplah kembali pada situasi, pengalaman, dan wawasan masing-masing pembaca. Sebagaimana yang diriwayatkan, kamaqol Nyai Nella Kharisma wa Via Vallen; kuat dilakoni nek ra kuat di tinggal ngopi, yang pada outpunya adalah piker keri.