Kisah Liku Bimo Lukar
Cari Berita

Advertisement

Kisah Liku Bimo Lukar

Senin, 23 September 2019


Bimo Lukar atau Tuk Bimo Lukar adalah sumber mata air kali Serayu yang berlokasi di kaki utara Gunung Prau. Pertama kali tercatat dalam tulisan, dikatakan mata air ini terdapat dua buah, bertingkat vertikal atas dan bawah. Mata air berbentuk persegi dengan dinding batu terpotong rapi. 

Karena lokasi yang curam, diceritakan satu-satunya akses untuk turun dan naik adalah tangga sempit yang "berdiri tegak" yang mana masih digunakan oleh penduduk sebagai jalan naik turun untuk mengambil air.

Tempatnya yang berada di komplek bangunan kuno, juga memberi kesan istimewa bagi pengunjung yang datang kesana.

 Tercatat, seorang Bupati Kendal sering melakukan ritual mandi ditempat ini ketika tahun Baru Jawa tiba.
Seiring berjalannya waktu dan kosongnya catatan, tak diketahui pasti kapan Bimo Lukar diberi nama. Satu kolam yang pernah diceritakanpun menyusul sirna. Tangga yang pernah menjadi saksi sejarah juga berpindah dari tempat aslinya.

Foto-foto hitam-putih koleksi orang eropa juga nampak berbeda. Pancuran yang sempat tertangkap kamera mengucur deras dengan satu jalan air yang dilaluinya. Tak terlihat ada penampakan Jaladwara.
 Mungkin terlepas dan belum ditemukan atau memang tidak ada.
Jaman-pun berganti, batu dinding dan lantai yang terlihat reyot dimasa lampau ditata rapi, ditambah dua Buah Jaladwara yang digunakan sebagai pancuran.
 Meski satu lokasi dan berada dalam satu kolam yang sama, Jaladwara ini berbeda, baik dari segi ukuran atau ukirannya. Kurang jelas siapa dan kapan pancuran ini terpasang.

 Mungkinkah Jaladwara itu memang Jaladwara yang merupakan penghuni asli? Lalu kenapa berbeda? Jika benar pancuran tersebut ditemukan tak jauh dari sumber, tak begitu mengherankan jika bentuknya berbeda, mengingat jika kembali ke belakang memang diceritakan terdapat dua kolam air di tempat yang tidak berjauhan.

Seiring perkembangan pariwisata, Bimo Lukar-pun turut merasakan imbasnya. Gencarnya pembangunan guna mendongkrak industri Pariwisata kolam kuno ini dipaksa mengikuti perkembangan Jaman guna menarik wisatawan.

Pertengahan tahun lalu terjadi pembangunan besar-besaran, kali Serayu dirapikan, lahan mangkrak yang dulu berbalut semak di tanam beton untuk sebuah taman peristirahatan. Ditengah penggalian yang terjadi, sebuah arca Ganesa tersangkut cakar besi. Arca relatif utuh, namun karena kecelakaan, hidungnya menjadi hilang. 
Entah kenapa dan atas pertimbangan apa, meskipun ditemukan arca di dekat situs Cagar Budaya proyek ini terus berjalan. 

Kabar dari media bahwa penemuan arca sudah dikonsultasikan dengan Tenaga Ahli Cagar Budaya, yang artinya pembangunan yang terus berjalan juga sudah memiliki pertimbangan. Dari titik itu paling tidak dengan adanya proyek yang dekat dengan Situs Cagar Budaya ini ada yang mengawasi.

Tahun-pun berganti, dan terjadilah, Proyek yang dipikir sebatas kali Serayu dan lahan pinggir jalan ternyata turut memakan situs Cagar Budaya di dalamnya. 
Bimo Lukar yang memiliki dinding dan lantai batu kini telah dibalut tegel hitam masa kini. 
Tangga yang sempat menjadi saksi peradaban pun tinggal satu biji.
 Terkejut, kaget, Terheran heran wqww, ketika melihat lokasi, yang waktu itu juga sedang ada acara ritual ruwatan yang di pimpin sendiri oleh Mbah Manu, saya menyebutnya Mbah Romo Manu dari Yogyakarta ahli tentang pernaskahan naskah kuno. (Untuk cerita ini bisa saya ulas lain waktu.)

Merasa heran, kok bisa ya yang tadinya situs cagar budaya yang di lindungi tetapi malahan ikut ke gusur tampilan area bima lukar telah berbeda, saya hanya mbatin dan mengungkapkan dengan Kang Farhan waktu itu" wah eman eman yak kang" 
"Kenapa hal ini bisa terjadi?", Padahal ini terpampang dalam pengumuman dengan jelas merupakan sebuah Situs Cagar Budaya yang terdaftar dan dilindungi undang-undang Negara? Pemrakarsa juga aparatur negara? Kok iso? Tak percaya, tapi sudah menjadi fakta.

Setelah ditelusuri, ternyata pembangunan yang dijalankan tanpa pamit, tanpa permisi ke pihak pelestari resmi. Yah sudah terjadi, mengumpat dan menyalahkan juga tidak menyelesaikan masalah. 

Bagaimanapun, Bimo Lukar perlu diselamatkan, bangunan Cagar Budaya berbeda dengan bangunan lain, tidak bisa dibangun seenaknya dengan alasan perkembangan jaman atau kesan keindahan, yang membuat cagar budaya istimewa adalah bentuk aslinya, jika hal itu sirna, sama saja menghapus nilai Cagar Budaya itu sendiri. Hilang sejarahnya, hilang budayanya.

Nah, kemarin mendapat info dari seorang arkeolog yang biasa melindungi dan merestorasi sebuah cagar budaya dll dengan berbekal restu tampuk kewenangan tertinggi Cagar Budaya Dieng. 

Dinding tegel itu hari ini berhasil dirobohkan dan bersyukur tanpa melukai sedikit pun batuan asli. Situs itu utuh, seperti sedia kala. Tempat yang lembab membuat semen penutupnya menjadi lambat untuk kering sempurna.

Bimo Lukar termasuk beruntung bisa kembali seperti sedia kala, tampak kuno, jelek, ketinggalan jaman, lumutan, tapi itulah nilai pentingnya. Disini kami tak ingin menghakimi, saling tunjuk hidung siapa yang salah atau siapa yang lalai. 

Dengan kejadian ini (meskipun hal serupa banyak ditempat lain) semoga dapat pelajaran. Pembangunan guna kemajuan pariwisata atau sejenisnya patut di apresiasi, dukungan, bahkan pujian. Namun karena ketidak tahuan dan jeda komunikasi, hal yang tak perlu harusnya dapat dicegah dan tidak terjadi.
"Dari atas awan kami gantungkan harapan." Begitu kutipan penutup tulisan beliau. 

(Dikutip dari berbagai sumber)
Men dikira tulisan sik nganu wqwqw~