Paku Waja Si Indah yang Tersembunyi
Cari Berita

Advertisement

Paku Waja Si Indah yang Tersembunyi

Selasa, 16 Juli 2019


Banyak pendaki yang baru pertama kali menginjakan kaki ke Dieng tapi belum tau lokasi yang gak kalah indahnya dari tempat wisata outdoor yang lainya,
Pakuwojo bisa menjadi pilihan yang tepat. Selain kental akan nilai-nilai budaya dan tradisi ada pula legenda yang menjadikannya penuh dengan dongeng dan kisah masa lampau.
Gunung Pakuwojo terletak sebelah Bukit Sikunir sebagai alternatif melihat golden sunrise yang menawan.
Gunung Pakuwojo memiliki ketinggian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Bukit Sikunir, tentunya lebih leluasa melihat keindahan golden sunrise dari puncak ini.
Gunung pakuwojo memiliki ketinggian 2.395 mdpl (meter dari permukaan laut)
Jalur pendakian ke Gunung Pakuwojo melalui desa Sembungan, Parikesit, Tieng, dan jalur Gunung Sikendil. Lama pendakian ke gunung ini sekitar 1,5 jam dengan medan Standard (tidak terlalu berat)
Suhu udara di Gunung Pakuwojo berkisar Siang hari : 10-15 °C dan Malam hari: 3 – 9 °C.
Pemandangan yang bisa kita lihat antara lain Gunung Sindoro, Gunung Prau, Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, Gunung Nganjir, pertanian dan lembah
Lokasi Gunung Pakuwojo terletak di Desa Tieng dan sebagian Desa Sembungan
Pakuwojo berasal dari nama paku baja karena di puncak Gunung Pakuwojo terdapat batu besar berbentuk seperti paku berada tepat di pusat puncak Pakuwojo diantara 2 Telaga Wurung (bekas letusan vulkanik melengkung seperti mangkuk).
Flora endimik yang ada di Gunung Pakuwojo sebagai berikut: Bunga api, ilalang, pakis haji, cemara gunung, edelweiss jawa, cantingi ungu, bunga turuwara, kantong semar, buah berry, lumut paku, akasia.
Sedangkan fauna endemik yang ada di Gunung Pakuwojo seperti: Burung kutilang, burung pentet, burung tekukur, burung jalak, burung gecu (sudah punah), burung depyak, burung elang, kijang dan babi hutan dan mungkin sekarang sudah punah.

Lain dengan gunung Prau yang menawarkan keheningan bukit dan kabut yang selalu menyelimuti lereng-lerengnya, Gunung Pakuwaja seakan masuk menjadi obyek wisata, seperti halnya kawah Sikidang, candi Arjuna dan Telaga Warna mengingat jaraknya yang mudah dijangkau.

“Setelah banyak yang mulai mengenal Prau dan Pakuwaja, sekarang banyak jalur baru dan sudah ada basecamp resmi untuk ke Pakuwaja yang terletak sebelum basecamp Prau.

Trek menuju puncak didominasi bebatuan yang terus menanjak dan disarankan Handoyo untuk mempersiapkan senter sehingga jika keadaan mendung bisa melihat jalan dengan jelas karena terkadang sangat licin.

“Di trek yang menanjak di dominasi semak belukar yang tinggi dan sangat indah, biasanya bagus untuk foto-foto pada pagi hari, namun harus berhati-hati saaat melewatinya.

Tujuan utama Pakuwaja adalah sebuah batu besar yang memiliki bentuk unik yakni menjulang tinggi. Batu itulah yang menjadi pusat perhatian dan juga primadona pendakian Pakuwaja dan berdasarkan cerita orang tua atau legenda setempat, batu itu adalah paku atau pasaknya pulau Jawa.

“Karena pada jaman dahulu pulau Jawa terombang-ambing, barulah ketika diberi batu itu pulau Jawa bisa kembali stabil,”menurut cerita penduduk setempat.

Selain lumayan sulit dijangkau pendaki, lokasi batu pasak tersebut juga licin dan banyak tanaman berduri yang meliputinya. Selain batu pasak yang diyakini terbuat dari baja tersebut, ada daya tarik lain yakni  sebuah telaga yang kerap mongering di bulan Juni dan didominasi rerumputan hijau yang indah.
Lokasi Pakuwaja diapit oleh dua  telaga yang kini telah mengering. Menurut warga dari kisah turun-temurun,  air dari telaga itu mengalir turun ke Telaga Cebong yang berada tidak terlalu jauh dan kini mengisi telaga tersebut. Bagai mana kalo akhir bulan kita kesini sambil ngopi dan ngudud bareng?