menelisik Dieng Masa lalu (2)
Cari Berita

Advertisement

menelisik Dieng Masa lalu (2)

Selasa, 16 Juli 2019


Berada di Timur Laut Candi Setyaki, atau barat daya "Dharmasala 4". Batuan candi lumayan banyak, jika tidak ingin disebut terlalu banyak. Tapi, seperti umumnya sebaran batu Dieng, susunannya abstrak, morat-marit tidak jelas. mirip hati? entah. Batu-batu disini tidak dipermukaan, melainkan berada di kedalaman tanah. Oleh karena itulah tempat ini dulu sering di tandai dengan bendera merah.
Tahun lalu cukup beruntung, karena warga sedang "bersih-bersih" resik-resik salah satu titik tempat disini, parit-parit dan sumur rumput dan semak di sekitar  di bersihkan, jadi cukup terlihat jelas jumlah dan susunannya. Tempat ini pun lain dengan peemukaan tanah Dieng lainnya, dimana menjadi salah satu "sumber mata air" para pengolah lahan. Tak kurang 5 diesel air menyala bersamaan, tersebar di satu lokasi yang digunakan untuk penyiraman lahan kentang.
Beberapa lubang menyerupai sumur terdapat disini, airnya penuh, tapi berdinding padas. Tahun lalu,  sempat terjebak "tanah goyang" di area ini, dan mata tertuju pada lubang "sumur" hingga kemudian cepat lari menyelamatkan diri.
Tak menyangka ternyata titik yang sama persis dimana Krom mengabadikannya dalam sebuah denah sebaran cagar budaya. Bentuknya menyempit memanjang, dengan dua persegi panjang, salah satu garisnya menyentuh aliran Gangsiran Aswatama.
Jika begitu, mungkin batu-batu ini bisa dibilang masih di situ, bendera merah itupun berubah menjadi biru, masa dan jangka mengubahnya menjadi sedemikian rupa, lalu apa?
Kinipun kembali menjadi sebuah tanya. Gangsiran Aswatama?
tenang lur akan kita bahas edisi berikutnya? mainkaan lur!