Menelisik Dieng Masa Lalu
Cari Berita

Advertisement

Menelisik Dieng Masa Lalu

Minggu, 14 Juli 2019


phinemo.com
Menelisik Dieng Masa Lalu
Seorang pemburu belerang, singgah di Delok, lereng Candi Parikesit, namun Parikesit dan Dwarawati sendiri ia tidak menyebut atau (belum terlihat?) karena dari arah sini untuk mencapai Dwarawati harus naik ke bukit yang memiliki kemiringan cukup curam. Jika vegetasi tumbuhan seperti hutan gunung Prau, dapat dipastikan dua candi ini meskipun di ujung bukit tidak nampak wujudnya.
Kelompok Arjuna terlihat di depan mata, namun tertutup oleh air danau. Ia hanya menatap tanpa mendekat. Ia dapat melihat seluruh permukaan terlihat dipenuhi serakan reruntuhan kuil dan arca.
Dari Delok dia mengambil sisi kiri (reco gede), menyusuri jalan yang penuh lubang galian, batu candi dan fragmen arca berserak dimana-mana, hingga sampai di candi Petruk. Petruk masih memiliki ketinggian 18 kaki dan luas 10 kaki (10thn kemudian sudah hampir runtuh). Masih ada arca Siwa dan Ganesha. Di Petruk sendiri ia melihat terdapat 4 candi yang membentuk dua kelompok yang indah.
Dari sini ia juga bisa menatap Arjuna, selain itu, dia juga melihat 2 gundukan berisi candi lain yang seluruhnya tenggelam dalam air.
Selepas dari Petruk, ia menuju 1 pal keselatan, saat itu berupa hutan. Ia menemukan kelompok candi lain di tengah hutan yang dikenal sebagai Bimo. 3 candi masih relatif utuh, sedang candi yang ke 4 benar-benar runtuh.
Pada altar depan ditemukan arca Siwa yang sudah rusak. Ada beberapa arca lain yang tertutup oleh kerindangan pohon. Lepas dari sini ia menuju kawah Candradimuka (Sikidang sekarang) sesuai misi awalnya. Pada arah selatan Kawah Sikidang ia melihat kepulan asap lain, namun tak mendekat karena tertutup gunung dan dia menganggap terlalu jauh. Ia pergi bersama bupati Kendal, ketika itu bulan Suro, dan Dieng menjadi daerah yang sangat di mistiskan oleh sebagian orang Jawa. Sang bupati menuju salah satu candi yang hanya tersisa altar dan dipenuhi air. Ia ritual dan mandi disana dengan penuh khidmat.

***
Ada dua hal yang menarik disini bahwa, dimana dia tidak menyebut Pesanggrahan, mungkinkah pesanggrahan disini kala itu belum di bangun dan dia memilih menginap di Delok, sisi barat Dieng, yang memang merupakan satu-satunya jalur tanpa dinding gunung?
Kedua, dia juga tak menyebut mengenai Candi Gatotkaca, ya karena memang Gatotkaca baru ditampakkan dari area hutan pada 11 thn kemudian.
Lalu mengenai 2 kelompok candi lain, mungkin kah parikesit dan Ontorejo? Dan dua gundukan terendam air itu adalah candi Nalagareng dan Nakulasadewa? Entahlah mari berpikir kedalam diri wqwq.
Sedang asap lain yang ia lihat di selatan mungkin kawah Kombang yang memang jika dari arah Si kidang tertutup oleh bukit Pangonan. Kenapa dia tidak kesana? Padahal yg dia cari adalah belerang? Dia tidak sendiri, mungkinkah ia tidak membawa serta penunjuk jalan yg benar-benar tahu medan? Maklum belum ada Gugel Map atau bahkan memang saat itu memang belum banyak orang yang paham mengenai jalanan Dieng?
Lho yang dimaksud dia itu sebenarnya siapa?
Mbuh.. mung kulak jare..