Menelusuri Jejak 'Tinta' Masa Lalu
Cari Berita

Advertisement

Menelusuri Jejak 'Tinta' Masa Lalu

Kamis, 18 Juli 2019

I. Kinsbergen 1864

Dieng, kala itu...
"...Penemuan lain mungkin akan terdengar seperti dongeng, di karenakan temuan itu di sebabkan tidak lebih dari sebuah kebetulan.
Pada suatu hari di bulan Oktober 1845, saya hendak kembali pada reruntuhan G. Pakuwojo untuk mencari sampel-sampel lava untuk koleksi saya namun hal itu tidak tahu tiba-tiba saya batalkan. Saya mengambil jalan yang berbeda dari biasanya, saya melintasi daerah rawa di antara danau Pengilon dan Warna.
Dua kelompok hutan muncul menyerupai pulau, dimana saya sering melintasi hutan yang paling utara, dan menyimpulkan ini merupakan lingkungan yang masih alami dengan lebatnya pohon hutan yang sama. Namun, saya sekarang baru sadar, bahwa saya berada diantara ketinggian tanah yang tertutup hutan, yang terdiri dari reruntuhan batu-batu berukir.
Pada satu titik diantara batu-batu besar yang mencapai ketebalan 15 kaki, kemudian saya turun sekitar 30 kaki, dan ternyata di bawahnya terlihat pantulan air danau menyerupai cermin yang mengarah pada dinding tenggara sebuah batu setinggi 8 kaki dan di topang balok batu lain setinggi 7 kaki. Ia berada 300 kaki, berada di sebelah barat laut pintu masuk goa. Lalu,  saya menemukan sebuah tulisan dengan karakter aksara sangat besar. Aksara ini tidak dipahat, tetapi terdiri dari pewarna hitam yang ditorehkan pada Batu trachytic dengan permukaan batu bewarna putih susu.
Permukaan aksara sendiri memiliki kerak yang sangat keras, karena saya penasaran saya mencoba mengelap permukaannya dengan spon, dan menemukan bahwa warna hitam itu tidak luntur terkena air...."
-Franz Wilhelm Junghuh, 1854-
kayaknya perlu blusukan melusuri tempat ini bukan lur? untuk bisa mengambil hikmah dan cerita dibalik ke asyikan peninggalan masa lalu.