Catatan Kecil Watu Kelir Dieng
Cari Berita

Advertisement

Catatan Kecil Watu Kelir Dieng

Minggu, 07 Juli 2019



Berbicara tentang Dieng tentu tak bakal ada habisnya ketika membahas tentang warisan para leluhur masa lalu. Dieng yang menyimpan banyak rahasia dan cerita menarik tersimpan secara sistematis masif dan terstruktur wkwkw. Untuk TSM ini lupakan ya lur. Haha.
 Di kaki (barat) dari punggungan Dieng ini berdiri gubuk terbesar di satu desa bagian timur atau Dieng Wetan sekarang. Untuk mendapatkan lebih banyak ruang di sekitar rumah, penduduk sering menggali disekitar dimana hal ini menjadikan bentuk punggung gunung semakin jelas. Seluruh lapisan bagian dalam tanah lereng gunung itu ternyata ditutupi dengan batu yang sangat besar, dan membentuk beberapa teras, masing-masing teras dihubungkan di beberapa tempat dengan tangga batu dengan anak tangga yang sempit.
Menurut tutur cerita pada zaman dulu, orang harus berjalan kaki dari arah Tuk Bima Lukar mendaki bukit dan turun melalui tangga batu yang ada di Watu Kelir. Hal itu merupakan sebuah rangkaian dalam menjalankan sebuah pemujaan kepada Dewa mereka yang dilandasi dengan keikhlasan.
Di seberang pesanggrahan atau tepatnya puskesmas Dieng Wetan sekarang tepi gunung yang berada di kedua sisi jalan yang mengarah dari Wonosobo ke dataran tinggi Diëng. Belum lama ini terdapat dua reruntuhan candi, namun ditahun ini candi itu hampir menghilang. Disalah satu bagiannya ditemukan beberapa Yoni (Yoni SMP 2 Kejajar).
Di sisi lain, di seberang jalan, juga ada juga dua reruntuhan (puncak watu kelir), tetapi hampir seluruh dari reruntuhan itu telah di pindahkan sampai hampir habis tak bersisa. Sebelumnya, bagian dari dinding gunung terputus dan memiliki dinding batu yang tertata dengan sangat rapi. 

Terdapat pula tangga yang mengarah dari dataran menuju ke atas. Dinding itu dulu memiliki panjang yang cukup jauh di sepanjang sisi gunung, tetapi tembok itu dipatahkan, dan sebagian besar ambruk selama pembangunan jalan.
Peristiwa itu membuat dinding ini berantakan dan hanya sebagian kecil yang tersisa.  Di dataran yang lebih rendah di depan, setidaknya ada puluhan ribu batu berserakan di mana-mana. Batu batu tersebut sebagian besar di manfaatkan oleh penduduk dusun sebagai pagar dan pondasi, juga untuk bangunan pesanggrahan.
Berada di atas sini tentunya dapat melihat penampakan hamparan Dieng yang mempesona, dan cocok pula untuk mengingat kenangan. Hah kenangan? ciee kenangan. bakal mudah membayangkannya jika berada di atasnya bagaimana mempesonanya Dieng yang masih menyimpan makna di balik kabut rahasia masa lalu. Mbokan.