Belajar Dari Pahatan Candi I Makam Sunan Bayat dan Candi Dieng
Cari Berita

Advertisement

Belajar Dari Pahatan Candi I Makam Sunan Bayat dan Candi Dieng

Minggu, 23 Juni 2019

           

Jum'at, 14 Juni 2019 bertepatan dengan 10 Syawal jadi nuansa lebaran masih terasa. setelah sekian lama tak bersua untuk melaksanakan dinas dolan cagar budaya maupun kuburan, kawan kawan dulur Padopokan Giri Saba kembali dinas. wkwk. Ya, meski memang sudah biasa, hanya saja sempat libur beberapa waktu, dan sah-sah saja karena tidak ada ikatan kedinasan dengan lembaga pemerintahan maupun swasta. Katanya.
Poster pun dibuat, dengan beberapa editan, maklum masih amatir dan memang sebanarnya hal ini bukan menjadi masalah, karena baik buruknya dinilai oleh diri sendiri, sedangkan ketika diri ini menilai karya sendiri tentulah tidak ada kata buruk, sebab dengan berladaskan pada jarene, tidak ada yang tidak bermanfaat sesuatu yang telah diciptakan dan dibuat, terlebih ciptaan dari Tuhan yang Maha Esa.
Seusai Jum’atan penulis bergegas menuju Shin Foodcourt di Jawar Mojotengah, untuk lebih tepat posisinya bisa di cek di Google map. Cuaca siang itu sedikit mendung dan gerimis tipis pun juga telah turun seakan mengajak ngopi tipis di sudut Shin foodcourt. Hujan bulan Juni terlebih, jadi teringat puisi Pak sapardi, Hujan Bulan Juni. Ohh Pak Sapardi Hanya ingin ngopi dengan sederhana di Bulan Juni~
Meski cuaca sudah mendung dan hujan di bulan Juni ini turun, dan ndilalahnya sudah menjadi kesepakatan tak menyurutkan untuk nandangi dolan kuburan. Bergegaslah penulis dengan Kang Farhan meluncur tipis-tipis dengan harley davidsonnya Kang Farhan, baru seperempat perjalanan tiba-tiba motor mati, turunlah, diotak atik oleh kang Farhan di belai di akali sedemikian rupa tak ada perbedaan. Istirahat~
Beberapa menit kemudian setelah mood kembali bangkit, Sohibul motor kembali menghidupkan namun usaha tetap tak ada hasil. Tak banyak basa basi pasrahkan ke ahlinya tentunya. Agak beruntung jalan menurun meluncurlah motor turun, sesekali dengan ikhtiar starter motor maupun di selah. Ketiban rezeki motor sedang berpihak, cuss gaskeun menuju tujuan. Namun tujuan menjadi berbeda, yang awalnya berencana ke Kuburan yang dipercaya banyak pengikut Pangeran Diponegoro di makamkan al hasil beda, keliwatan, mustahil untuk kembali. Lanjut diputuskan meluncur ke Makam Si Bunderan Krasak Mojotengah.
 Perjalanan pun masih stabil dengan tingkat kelancaran yang juga masih ada was-was motor kembali mati. Iya, tak dapat disangka gara-gara pengendara motor lain yang ngawur dan secara otomatis jongki, Kang Farhan mengalah. Alhasil motor kembali didorong, Ndilalah bengkel tepat di depan jadi tak begitu susah mendorongnya. Perjalanan yang Asyique lur! Wqw.
Setelah beres diatasi bengkel dengan segala ritualnya, kami bergegas meluncur kembali ke tujuan makam si Bunderan. Sesampainya ambil air wudhu, melihat lihat sekitar dan sesekali mengambil video untuk sinau ngevlog lirian yang mana merupakan bagian dari agenda hari itu. Pohon pohon yang jarang dan sudah langka pun ditemui di area makam ini. pohon Kemuning misalnya, pohon ini yang menurut kisah yang di ceritakan di Babad Diponegoro merupakan bagian dari tanda bahwa Pangeran atau pengikutnya pernah singgah atau menjadi petilasan kala itu. 


Tinggal dilihat dari usia pohon tersebut yang masih muda atau sudah ratusan tahun. Tentu ini perlu kajian yang lanjut dengan dicocokan dengan alur yang tercantum di Babad. Serta yang perlu menjadi ingatan bersama, seringnya hampir sebuah makam atau petilasan yang belum jelas kepastiannya langsung dikaitkan bahwa wilayah atau barang ini atau apapun ini pada era Pangeran Diponegoro, atau “oh ini pengikut Pangeran Diponegoro”, dan lain sebagainnya. Nah ini yang menjadi bahan PR kita. Hah kita? Wqwq.
Masuk area makam Sunan Bayat. Memasuki area makam yang diyakini sebagai makam Sunan Bayat juga banyak ditemukan beberapa makam yang ada di area tersebut.
Menariknya di area makam ada ornamen berupa pahatan relief burung, dengan bentuk yang khas, dan sama, terdapat di beberapa batuan kuna di sekitar Wonosobo. Di makam kuna yang diyakini sebagai makam pangeran Bayat atau sunan Bayat di dusun sibunderan, ada tiga hewan yang terpahat: ular, tupai/asu atau anjing. (?), dan burung entah burung beo atau apa, yang bentuknya sama dengan pahatan di candi watu gong dan candi di Dieng. Entah itu adalah penggambaran aksara atau juga sebuah tahapan dalam hidup untuk menjaga sifat kebinatangannya dan menahan kemudian mengolahnya menjadi sebuah hal kebaikan dan kebenaran.




Dilansir dari tulisan kang Farhan, Jika bangunan-bangunan kuno itu mewakili sebuah sistem keyakinan atau agama tertentu, maka estetika artistik dalam arsitektur bangunan kuno tak terbatasi oleh sekat agama atau keyakinan mayoritas pada zamannya. 
Makam sunan Bayat di Wonosobo berada di tempat paling tinggi di komplek makam, yang juga digunakan sebagai pemakaman umum. Di sekitar makam Sunan Bayat terdapat beberapa makam dengan nisan batu yang cukup besar dan bentuk yang beragam. Di luar, terdapat satu makam yang cukup panjang, sekitar 5 meter. Beberapa meter di sebelah barat terdapat makam yang dibangun sedikit berbeda, bagian jirat/kijing sekira tinggi satu meter, diatasnya terdapat dua batu nisan cukup besar.
Masih dengan ulasan pahatan burung yang mirip beo, burung beo adalah burung peniru dan mengucapkan kembali kata apa yang diajarkan. Menurut tulisan seorang Arkeolog yang pernah penulis baca bahwasanya seekor beo ketika mengucapkan kembali kata apa yang diajarkan selalu tanpa mengurangi, tanpa menambah ataupun memodifikasinya
Motif pahatan ini pun sering ditemui pada dinding luar mengelilingi bangunan candi, sesuai dengan sifat akan burung itu. Upacara yang dilakukan oleh pendeta, baik dari ajaran Dhamma ataupun Veda, sang pendeta tidak akan mengurangi, menambah, atau memodifikasi. Ajaran2 itu di ucapkan kembali kepada umat, untuk ditirukan sesuai dengan apa yang didengar. Beo atau Suka dalam sanskerta merupakan simbolis akan suatu kebenaran transmisi suatu ajaran.

            Sebagaimana candi adalah manifestasi ruang akan ketuhanan, simbol alam semesta, alam dewa. Candi juga kadang digambarkan sebagai bentuk 4 Dimensi rangkuman kitab suci, maka berbagai ornamen baik tata, hingga cara tak begitu saja sembarang ditampilkan. Dengan memahami simbol-simbol yang tersurat, sama artinya dengan memahami apa yang diajarkan dalam Dhamma ataupun Veda. Mungkin sama halnya ketika kita mengolah untuk menjadi mutjahid, ijtihad, taqlid, ijtima’ dan lain sebagainnya.
Catatan di atas bukanlah catatan ngilmiah maupun dari akademisi, ahlinya ahli, intinya inti, hanyalah catatan lirian yang sedang berikhtiar berproses mencari sebuah cerita-cerita yang asyik agar menjadi sebuah kebulatan cerita yang tak hanya jare-jare dan langsung di percaya tetapi ada sanad yang bersambung. Mbokan.
Vlog lirian part 1 https://www.youtube.com/watch?v=B4rek-4PJ4Y&t=3s