Harmoni Puasa (12) Persebaran Islam di Wonosobo
Cari Berita

Advertisement

Harmoni Puasa (12) Persebaran Islam di Wonosobo

Jumat, 17 Mei 2019

IG:  @arya_haryadi29

Oleh : Ahmad Muzan MPd.I

Pertimbangan lainnya sebagai jalan untuk membuka perjalanan Mubaligh ke Wonosobo, adalah dataran Tinggi Dieng. Peranan Dieng sebagai pusat kekuasaan dan Pemerintahan Hindu pada jaman Wangsa Sanjaya semenjak abad ke 7 M memberi kesan bahwa Dieng merupakan wilayah tua di pulau Jawa yang memegang peranan penting dalam proses kemasyarakatan dan kehidupan masyarakat.
Dieng atau dataran tinggi Dieng, pada saat ini, secara geografis- Administratif berada di Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal.

Secara Astronomis dataran tinggi Dieng terletak diantara 103,30 derajat BT dan 111,30 derajat garis LS. sebuah posisi kosmis yang memungkinkan tumbuhnya peradaban manusia yang mempunyai nilai tertentu tentang kehidupan manusia dan esensinya. Posisi alamnya yang sangat indah dengan panorama gunung, telaga, candi serta situs jaman dulu yang menunjukkan tentang ektifitas masyarakat yang sudah ada pada ratusan tahun yang lalu atau bahkan jutaan tahun.

Dalam perbincangan mengenai dataran tinggi Dieng disebutkan bahwa daerah ini merupakan daerah yang subur dan kekayaan alamnya yang tidak bisa tertandingi dengan daerah manapun. Dieng masa dulu merupakan daerah yang dituju oleh orang orang untuk merasakan keindahan dunia. Dieng yang lengkap dengan bangunan Candi Candinya yang diperkirakan dibangun pada abad ke VII s.d XIII M telah meninggalkan jejak sejarah manusia yang membentuk suatu perkampungan yang disebut dengan kota pada masanya. Selesainya dinasti tersebut pembicaraan mengenai Dieng menjadi terputus dan baru diperbincangkan

lagi pada tahun 1820an setelah ditemukannya Candi oleh orang orang Belanda yang telah menguasai Jogjakarta. Informasi berikutnya tentang Dieng dimulai kembali pada periode kekuasaan Mataram Islam pada masa Sultan Agung (1613-1645M) yang sedang mengadakan penaklukan demi penaklukan pada masa Amangkurat I (1645M-1677M). Pada masa tersebut sebagaimana disebutkan dalam Serat Centhini terdapat catatan perjalanan Syekh Amongrogo beserta keluarganya, yang merupakan putra putri Sunan Giri (perdikan Giri) yang tidak mau tunduk kepada Mataram mengadakan perjalanan sampai ke daerah Dieng.7)

Mulai dari tahun ini setidaknya dapat ditemukan dugaan bahwa Dieng dan sekitarnya yang masuk wilayah Wonosobo sudah dihuni kembali oleh masyarakat yang beragama Hindu dan Budha setelah sebelumnya meninggalkan daerah ini karena terjadinya bencana alam. Pada sisi yang lain, pada periode itu pulalah terjadi gelombang kedatangan masyarakat keturunan Arab yang dengan sengaja mengadakan perjalanan untuk kepentingan perdagangan dan penyebaran agama islam. Para pendatang ini berasal dari keturunan Arab yang masih keluarga Nabi Muhammad Saw (Kaum 'Alawiyyin) yang masuk ke daerah Wonosobo melalui dataran tinggi Dieng dan menyebar ke daerah lereng pegunungan hingga mencapai pusat kota yang sekarang menjadi Wonosobo setelah sebelumnya mereka tinggal di daerah Batang.