Merapal Mantra Orang Jawa
Cari Berita

Advertisement

Merapal Mantra Orang Jawa

Senin, 22 Juni 2020



Penulis: Sapardi Djoko Damono
Judul: Mantra Orang Jawa
Penerbit: Gramedia
Tebal: 80 halaman

Agaknya manusia mengira Sang Penguasa Kehidupan menyukai kata-kata indah. Banyak kitab ajaran hidup yang ditulis dalam tatanan persyairan. Berbagai doa dipanjatkan dengan kalimat indah mendayu-dayu. Lebih indah dari rayuan seorang pria pada kekasihnya.

Maka tak keliru, apabila mantra atau suwuk, jopha-japhu seringkali jadi bahan inspirasi penulisan puisi. Meski pada awalnya mantra bukan ditujukan sebagai karya sastra. Namun, citarasa eksotisnya memesona banyak penyair, dan menjadi ladang tulisan tersendiri, mantra pun adalah sebentuk puisi, jika dimaksudkan itu sebagai puisi.

Kemudian, puisi pun jadi mantra yang mampu menyihir pembacanya. Beberapa orang mengaku tersihir oleh puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Beberapa orang yang lain terpukau pada puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri. Yang lainnya oleh Rendra, Chairil Anwar, dan seterusnya. Penyair pun menjelma penyihir. Banyak penyair berniat menyihir pembaca melalui puisi-puisinya. Lalu puisi jadi mantra.

Tentu ini berlebihan. Tak semua penyair bisa menyihirmu begitu saja. Ada dari mereka bahkan tak tersihir oleh puisinya sendiri. Maka tak perlu risau. Sihir puisi hanyalah sesaat. Bahkan lebih sesaat daripada isapan rokok sebatang. Karena penyair menulis puisi, sedangkan kau membaca puisi. Lain soal, jika penyair dan pembaca dan puisinya adalah engkau.

Sebuah buku mungil diterbitkan dengan judul Mantra Orang Jawa. Kata mantra itu sendiri sudah jadi daya tarik. Sulit rasanya mendapatkan buku yang membahas secara dalam tentang mantra-mantra. Terutama mantra-mantra yang bisa dirapal dan bermanfaat. Jikalau toh ada, kita mungkin akan segera meragukannya. Dalam tradisi, mantra lebih banyak diajarkan secara bisik-bisik di balik pintu. Justru itulah yang membuatnya jadi eksotis dan penuh pesona.

Yang tak kalah menarik dari buku ini adalah penulisnya, Sapardi Djoko Damono. Apakah penyair yang lemah lembut ini beralih profesi menjadi perapal? Atau, ini hanya sebuah judul belaka.
Ternyata tidak, buku tipis ini memuat 60 mantra yang dikumpulkan dari tradisi orang Jawa. Ada mantra doa hari lahir, aji Limunan, mantra kebal peluru, doa agar dilancarkan rejeki, doa sakit encok, doa mandi, mantra merasuk ke jiwa raga orang lain, mantra pengasihan semar mesem, sampai mantra sebelum dan sesudah senggama.

Semua mantra tadi ditulis ulang oleh Sapardi Djoko Damono ke dalam bentuk puisi. Namun demikian, Sapardi Djoko Damono berupaya agar keeksotisan dan daya magisnya tetap terjaga.
Bismillah

Bis: kulit
Mil: daging
Lah: tulang

Alrahman
Alrahim:
sepasang mata
kiri dan kanan

Bayang-bayang

kun zat kun:
jangan mengalingi zat
sukma yang mendukung bayang-bayang
inti sukma yang terkurung
dalam bayang-bayang,
keluarlah:
aku ingin menyaksikan
apa yang kaunamakan hidup itu

Ada beberapa mantra menarik yang bisa dibaca untuk kegiatan sehari-hari.

Doa Waktu Mandi

Menyala-nyala Dhatullah
muncul menyala Rasulullah
Allah bergetar dalam hidup
Allah bergerat dalam rasa
Ya rasa Allah yang Mahakuasa

Mantra Sebelum Bepergian

Bismillah
akulah Nabi Adam
suaraku Nabi Daud
cahayaku Nabi Yusuf
tubuhku Nabi Muhammad
tak ada tuhan melainkan Allah
Muhammad utusan Allah

Setahu saya, ada banyak mantra, aji-aji, atau jampi-jampi yang populer di tradisi Jawa yang entah kenapa tidak masuk dalam buku ini. Saya yakin Mbah Sapardi tahu dan mengkoleksinya. Seperti: mantra sirep yang biasa digunakan oleh pencuri untuk membuat pemilik rumah tertidur. Atau, mantra gendam untuk menghipnotis orang, dan mantra-mantra lain.

Upaya Sapardi Djoko Damono untuk memuisikan salah satu bentuk tradisi kuno bangsa kita, khususnya tradisi lisan orang Jawa, patut dihargai. Dengan kacamata yang disediakan oleh Sapardi, kita bisa melihat sebuah mantra dari sudut pandang yang lain sama sekali. Eksotik, miris, dahsyat bahkan mendirikan bulu kuduk. Dari sini kita bisa mengenal bentuk-bentuk pengucapan orang Jawa dalam hubungannya dengan kekuatan alam.

Selain itu, kita juga bisa melihat pola sinkretisme budaya Jawa, yang tampak pada penggunaan istilah-istilah Allah, Muhammad, Bismillah, Jibril yang banyak tersebar di hampir semua puisi. Hal ini bisa membuat kaum muslim mengernyitkan dahi, terutama mereka yang belum mengenal latar belakang budaya Jawa. Oleh karena itu, buku ini perlu diberi pengantar yang lebih baik yang menjelaskan latar belakang sinkretisme dan budaya Jawa yang melahirkan mantra-mantra ini.
Hal lain yang bisa ditambahkan adalah pencantuman teks asli, yang akan sangat memperluas penerjemahan dan imaji penafsiran. Meski dengan begitu, Sapardi akan direpotkan dengan membuat catatan kaki. Mungkin Sapardi khawatir jika semua itu dicantumkan, buku ini menjadi buku mantra, bukan buku puisi.

Buku ini akan punya bobot dokumentasi tinggi jika dilengkapi dengan sumber naskah, latar belakang dan konteks masing-masing mantra. Meski mantra lebih banyak disampaikan dalam tradisi lisan, namun bukan berarti ia tidak bisa ditelusuri asal-muasalnya. Ini pantas dilakukan Sapardi mengingat kapasitasnya bukan hanya sebagai seorang penyair, melainkan juga sebagai akademisi.

Akhirnya, buku ini hanyalah buku puisi. Tak lebih dan tak kurang. Sebagaimana tulis mbah Sapardi di prawacana, jika pembaca berniat memakainya untuk mencapai maksud tertentu, silakan saja. Siapa tahu terkabul.