Membaca Aleppo: Asyik Bersama Cak Rusdi
Cari Berita

Advertisement

Membaca Aleppo: Asyik Bersama Cak Rusdi

Kamis, 04 Juni 2020


Sebuah buku dari kumpulan tulisan pendek Rusdi Mathari yang kerap dipanggil cak Rusdi. Buku ini membawa kita seolah menjadi saksi kisah cak Rusdi dari semasa anak-anak yang bandel tapi cerdik - remaja nakal yang terus tumbuh menjadi pribadi yang dewasa - hingga menikah - dan juga menceritakan kehidupannya di dunia wartawan.

Buku ini menjadi menarik saat bercerita tentang Voja anaknya, burung perkutut bernama kliwon, si penjual cimol, dan kisah tokoh-tokoh ternama pada jamannya dari berbagai negara. Pada bab terakhir, terdapat 1 judul yang juga menjadi judul buku ini "Aleppo".

Membaca aleppo membuatku merenung, tertawa, dan beberapa kali berfikir untuk melakukan hal baik yang bisa kulakukan. Kata Aleppo punya rasa tersendiri bagi yang mendengar, melihat, dan menyebutkan namanya. Ia memang tidak seperti Mekah dan Madinah, yang menjadi impian setiap orang karena memenuhi pembuktian cinta padaNya atas kemampuannya. Kalau pun tidak mampu, akan diusahakan agar mampu. Aleppo bukan kota yang seperti itu. Tapi sama-sama memberi bekas. 

Kumpulan esai ini punya banyak bab dan subbab. Yang paling menarik adalah 5 bab terakhir meski tidak semua sub bab asyik dibaca di bagian itu. Di 5 bab itu penulis memberikan pandangan-pandangannya terhadap fakta-fakta yang menjadi sebuah hal yang  baru. 4 bab pertama banyak cuplikan kehidupannya. And like I used to be, bagian di mana penulis yakin akan jodohnya yang paling bikin kesemsem. Like, seriously, do men know who is the right one for them that simple? For me, it was like a magic. Can't be explained.
 
Membaca kumpulan esai adalah sebuah tantangan. Pintu-pintu kritik itu menggelitik dan memancing untuk mencari tahu apakah ada orang lain punya kritik berbeda pada satu hal yang sama. Nah, dari Aleppo ini, dua sub bab yang membuat tersenyum hanya dari baca judulnya saja itu Bahasa dan Menulis. Dalam Bahasa, penulis membicarakan Bahasa Eyak, bahasan punahnya bahasa-bahasa, dan kritik terhadap orang-orang yang 'mengkritik' bahasa Inggris presiden.

Marie Smith Jones mendapatkan julukan "wanita yang menghadapi permusuhan luar biasa dan bisa mengatasinya", karena Jones sampai akhir hayatnya masih mempertahankan bahas ibunya itu. Ia bahkan menyusun kamus besar bahas Eyak. Ia ingin agar anak-anak memiliki catatan tentang bahasa Eyak.

Dari berita-berita online yang mengolok-olok bahasa presiden, kamu akan tahu bahwa interpretasi media itu tidak main-main. Beda dikit saja, lalu kamu publikasi, akan menimbulkan riak yang berbeda. Bahkan gelombang besar yang tidak bisa kamu bendung sama sekali.

Bagi saya, bahasa juga merupakan sesuatu yang ajaib. Bagaimana lawan bicaramu mengerti persis maksud dari ucapan-ucapanmu adalah sesuatu yang berharga. Dan itu tidak harus selalu dilakukan dalam bahasa yang sama. Bahasa seolah tidak luput dari elemen lain: pengertian, kesabaran, dan kejujuran.

Lalu, ketika  sampai di bab terakhir, pada bagian di buku ini hanya 'itu', selembar halaman di 281. Namun, kekecewaan itu terobati dengan subbab-subbab akhirnya: Madrid, Jerusalem, Jorda, Doha, Monaco, Milan, dan Xanadu. Akhirnya saya mengerti mengapa pada kaver juga ada hati merah dan hitam yang bertebaran di bawah hujan rudal.

Membaca Aleppo, layaknya membaca buku antologi cerpen, yang pada kenyataan hanya kumpulan catatan dari pemikiran seseorang Rusdi Mathari. Pemikiran yang sepertinya tumpah ruah begitu saja dalam sebuah tulisan: sebab sangat sederhana dan mengasyikkan. Namun, tulisan-tulisan itu tak dapat diremehkan karena mengandung banyak zat adiktif yang dapat membuat pembacanya tersenyum kecut: Cak Rusdi kerap kali menyisipkan satire halus maupun blak-blakkan di dalamnya.

Ya, Aleppo bukanlah buku yang berat untuk dibaca: sedap dinikmati saat nyantai. Pun, Aleppo bukan jenis buku yang merajuk saat ditinggal pembacanya: buku ini tak harus kebut diselesaikan hanya dalam waktu beberapa hari—tetap enak dibaca walau sempat dilupakan.