Harmoni Puasa (1) Diaspora Islam di Wonosobo
Cari Berita

Advertisement

Harmoni Puasa (1) Diaspora Islam di Wonosobo

Selasa, 07 Mei 2019

 Oleh: Ahmad Muzan MPd.I

*Tulisan berikut adalah beberapa catatan kecil dari penulis tatkala memulai penelitian awal tentang diaspora islam di Wonosobo sebelum terbentuknya tim penulisan sejarah Wonosobo. Tulisan ini ditulis sekitar tahun 2005.


Pendahuluan

Allah swt telah mengutus Nabi Muhammad Saw sebagai penghulu para Nabi dan Rasul (Khotamul ambiya' wal ursalin) untuk menyampaikan risalah Ketauhidan kepada umat manusia. Nabi Muhammad saw menerima al Qur'an untuk enunjukkan manusia jalan yang benar (haq). Misi tersebut terkandung dalam agama islam untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan (kekafiran) menuju cahaya (minal dhulumati ilannur) dan meluruskan Aqidah manusia dari menyekutukan menjadi mengimani (meyakini). Itu dilakukan oleh Rasulullah saw semenjak awal kenabiannya dengan mengenalkan Ketauhidan kepada kerabat terdekat, yaitu istrinya Khodijah binti Khuwailid ra. kemudian saudaranya serta sahabat sahabatnya.

Bermula dari proses dakwah yang secara individual, dari sembunyai sembunyi dengan membuat pertemuan di rumah sahabat Arqom bin Arqom hingga dakwah secara terang terangan dalam kurun lebih kurang dua puluh tiga tahun semenjak kenabiannya. Dakwah beliau pada awalnya ditekankan kepada Ketauhidan serta obyek dakwahnya terdiri dari berbagai kalangan serta golongan. Abu Bakar As Shiddiq sebagai saudagar yang ternama saat itu serta kedewasaannya berhasil beliau islamkan, dari kalangan pemuda saudaranya sendiri Ali bin Abi Tholib Karomallahu Wajhah, dari golongan bangsawan Zaid bin Haritsah serta golongan budak (kaum miskin) Bilal bin Robah yang kemudian dimerdekakan oleh Abu Bakar as Shiddiq setelah dibelinya dari Umayyah. Tidak lama kemudian disusul oleh Sahabat Usman bin Affan ra, Sa'ad dan Sa'id serta sahabat Tholhah.1)


Dakwah yang pada awalnya hanya dilingkungan masyarakat Makah yang kebanyakan penduduknya menolak ajaran Tauhid, akhirnya meluas ke daerah di luar Makah seperti Najasyi, Thoif dan Madinah sebagai sikap atas perbuatan orang orang kafir Makah . Lambat laun agama islam tumbuh dan dikenal hingga merata di seantero Jazirah arab pada masa akhir hayat Rasulullah saw. Dakwah Rasulullah saw kemudian dilanjutkan oleh para Sahabat Sahabatnya ke seluruh penjuru dunia hingga pada masa Tabi'in dan Tabi'it Tabi'in . Bahkan pada era globalisasi dan teknologi dakwah islam masih banyak didengungkan oleh para muballigh dalam segala bentuk dan aspeknya untuk mengajak dan menyajikan islam sebagai rahmatan lil 'alamin.

Masalah penyebaran agama islam atau lebih dikenal dengan dakwah untuk mengajak orang lain beriman (bertauhid) merupakan salah satu masalah yang fundamental dalam islam kerena. Tauhid menjadi sesuatu yang pokok dikarenakan menyangkut kehidupan sehari hari. akivitas kehidupan manusia yang berkaitan dengan kehidupan dunia dan akhirat akan mempunyai nilai jika didasari dengan keimanan. Hal itu yang menjadikan Tauhid harus didakwahkan.

Tanpa adanya para da'i yang menyampaikan masalah ketauhidan maka tidak mungkin orang itu mengenal agama dan mengamalkan ajaran agamanya dengan benar. Oleh karenanya risalah kenabian Rasulullah saw setelah menerima wahyu dari Allah swt melalui Malaikat Jibril adalah menyampaikan kepada umat manusia untuk mengimani (mentauhidkan) kepada Allah. Dalam sejarahnya,terutama pada periode awal kenabian (periode Makah) Keimanan menjadi tujuan utama risalah kenabiaan. Kemudian dilanjutkan dengan dakwah dalam bidang sosial dan segala hal yang berkaitan dengan aspek kehidupan kemasyarakatan maupun Syariah serta doktrin yang lainnya pada periode selanjutnya (Periode Madinah).

Melihat urgensinya masalah dakwah dan ketauhidan, maka amatlah penting jika kita mencoba menggali kembali dan mempelajari serta menelusuri sejarah perjalanan dakwah islamiyah yang dilakukan oleh para Mubaligh , hingga masuk ke dalam wilayah pedalaman Wonosobo. Apalagi melihat perkembangan di erainformasi saat ini dan globalisasi yang sangat cepat, hampir hampir nilai perjuangan para da'i terlupakan oleh generasi selanjutnya. bahkan seolah olah nilai perjuangan mereka menjadi bias. Padahal dalam setiap daerah yang berhasil diislamkan dengan segenap implementasinya, mempunyai pengaruh yang sangat besar secara sosiologis, kecenderungan masyarakat dan lingkungan (milieu) serta aktivitas kehidupan.

Pemahaman keislaman masyarakat sangat berpengaruh dalam perilaku kehidupan sehari hari yang terus mengalami perubahan sebagai buah cara berfikir dan bersikap masyarakat terhadap kehidupan. Apabila perubahan itu direspon dan dilakukan oleh masyarakat dengan hanya mempertahankan status quonya, tentu akan mematahkan nilai masyarakat yang berperadaban (mutamaddin).

Kata Mutamadin yang kemudian banyak dipakai dengan istilah masyarakat madani secara etimologi berarti berperadaban (berbudaya).Jika dipahami dalam kontek reformasi pembangunan mengandung konsekuensi bahwa manusia menjadi subyek dan obyek pembangunan. Sebagai subjek masyarakat selain memiliki berbagai kewajiban juga memiliki berbagai hak yang harus dihargai.

Sesuai dengan konsep islam sebagai rahmatallil'alamin yang sangat menghormati dan menjunjung tinggi eksistensi dan hak hak seluruh makhluk di muka bumi hususnya manusia. pengejawantahan (elaborasi) misi sebagai agama yang menempatkan manusia dengan derajat memiliki hak karomah dan Fadhilah dimana kemaslahatan dan kesejahteraan merupakan tawaran untuk seluruh manusia dan alam semesta sering disebut dengan Usul al- Khomsah (lima Prinsip dasar) yang telah diajarkan oleh para pendahulu penyebar islam.