Waktu untuk Tidak Menikah
Cari Berita

Advertisement

Waktu untuk Tidak Menikah

Jumat, 10 Januari 2020


Waktu Untuk Tidak Menikah, sejak kemunculan buku ini adalah sejenis buku yang sangat ingin dibaca. Berisi 14 cerita pendek dengan masing-masing tokoh perempuan. Penulis sendiri memang lebih menyukai buku berisi kumpulan cerita. 

Penulis buku ini, Amanatia Junda membawakan banyak tema yang dialami tokoh seperti hubungan, sosial, pernikahan, karakter, dan independensi. Buku yang tanpa kata pengantar ini (nilai lebih, karena buku jadi seperti menunjukan identitasnya) adalah jenis buku yang satu hari kamu baca. Ringan, ada di setiap keseharian, namun pola-polanya hanya akan dimengerti segelintir orang saja. Beberapa yang memahami pola tersebut pasti akan merasakan seperti menemukan kawan sepemikiran dalam buku ini.


Ada 14 kisah tragis soal perempuan yang berencana menikah dan  telah melangsungkan pernikahan, buku ini mengajarkan untuk tidak terburu-buru menikah hanya karena tradisi, atau hanya karena untuk mengganti status.

 Perempuan pada akhirnya jadi pihak yang harus paling ikhlas manakala suatu pernikahan mengalami kegagalan. Dalam buku ini pun dikisahkan, menikah adalah pilihan, batasnya sebelum akad. Banyak tragedi pembatalan perkawinan beberapa menit sebelum akad, perempuan diajarkan untuk nekad manakala ia ada dalam tekanan tradisi unik segera mungkin menikah. 

Buku ini juga mengajarkan, jika sosok laki-laki yang menjadi cinta pertama setiap anak perempuan (baca : ayah) akan sangat berpengaruh dengan pilihannya, untuk melangsungkan pernikahan ataupun tidak. Ayah adalah cinta pertama setiap anak perempuan. Figur ayah akan sangat mempengaruhi pandangan perempuan soal pasangan hidupnya. Ya kalau ayahnya jahat, mana mungkin anaknya ngebet pengen nikah, begitupun sebaliknya.  

 


Semua cerita yang dibawakan penulis adalah cerita yang belum usai, atau telah usai dan dijadikan sebagai bagian dalam hidup, kemudian terus berjalan seperti biasa. Penulis seakan mencoba menyampaikan pesan akan detail-detail dalam kehidupan: agar pembaca lebih peka, lebih saling mengerti.

"Yang kupelajari saat umurku paruh baya, ada masa ketika manusia belajar menerima pencapaian dan kegagalannya sekaligus. Itu mengurangi kadar depresi yang nanti akan kita hadapi di masa tua." (103) -Waktu untuk Tidak Menikah-