Senin, 01 Januari 2018

Belajar Dari Tembang Babadan

foto: IG, @fadol_photography
Ketika kang Iman dan lik Slamet sedang asyik dongengan, tiba tiba kang Amin dengan rengeng-rengeng syair lengger, ikut nimbrung duduk di bangku angkringan, tanpa basa basi langsung menyambar sate telur khas mbah Wulung.
Terus meneruskan tembangannya Babadana pangeran Gusti kawula/Ya Allah Gusti Allah/E ... Babadana Pangeran Gusti kawula/Ya Allah Gusti Allah/Welasana kawula sun kasihana/Dhuh Gusti Pangeran kula/Ya Allah/Babadana panggenan sun tilasane/.
“Hei kang lagi apa sampean? Serius sekali dari tadi.” Teriak kang Iman sambil mencopot headset di telinga kang Amin.
“Esstah, sampean ngganggu wong lagi serius saja.” tukas kang Amin sambil membetulkan headsetnya yang hanya dipasang separo saja.
Lha mbarang sampean baru datang terlihat sibuk dengan gadgetmu kaya kids zaman now saja. Celetuk kang Iman kepada kang Amin.
“Saya ini sedang serius nonton rekaman pentas lenggeran tadi malam kang. Baru kali ini saya menonton lenggeran agak ada nuansa yang beda, makanya saya rekam dan tonton lagi sekarang.” Jawab kang Amin singkat tak luput matanya tetap di ponselnya.
“Lik Slamet, mbok itu kang Iman diberi rokok lagi biar ndak ngganggu saya yang lagi ngaji ini.” Pinta kang Amin.
“Lho lho kok saya yang ngganggu, saya kan cuma nyapa lo ndak lebih. Coba mana saya lihat rekamanmu?”
“Tapi sebelumnya saya minta maaf kang, bukannya ndak boleh tapi gadgetku baterainya malahan habis.. kang”. Jawab kang Amin
“Ya setidaknya sampean paham kan yang ada direkaman tadi mbok ceritakan biar diriku tak penasaran, Bukan begitu lik Slamet?” Heuheuheu.. Tandas kang Iman dengan menyapa kawannya yang sedang serius menikmati lintingannya.
“Iya betul kang.” jawab lik Slamet singkat sambil mengangguk dengan senyum simpulnya.
Tadi malam di dusun sebelah dalam mengisi malam pergantian tahun baru mengadakan pentas tari lengger kang, para penonton bergerumun memenuhi depan panggung antusias warga sangat baik, nuansanya pun sangat lain dari biasanya kang. Kang Amin mengawali ceritanya.
Gimana sih? Coba langsung cerita saja tak perlu basa basi bikin penasaran saja.. tandas kang Iman penasaran.
Yang menarik dari pagelaran lengger tadi malam yaitu menurutku kang. ya ketika bawa celuk dan penggerong melantunkan tembang Babadan kemudian disusul tembang tolak balak dan tak lupa eling-eling. Meski disetiap pagelaran tentu syair ini ditembangkan namun agak sedikit berbeda nuansanya, tambah tambah ada sedikit penjelasan makna mengenai syair tersebut. Nah ini yang dimaksudkan kang. Apa mungkin karena bertepatan dengan malam tahun  baru ya?” tandas kang Amin sambil menyeruput kopinya.
Owalah, begitu ya kang.  Kalau menurut sampean bagaimana lik? Tanya kang Iman.
Lha kok tanya saya kang, biarkan kang Amin meneruskan ceritanya saja, monggo kang teruskan? Tanggap lik Slamet.
Setelah tembangan itu selesai, dari penggerong menjelaskan mengenai makna yang terkandung dalam syair tersubut, bahwa didalamnya menjelaskan untuk selalu bersyukur dalam berlaku hidup, dan berdoa memohon agar selalu di beri petunjuk dan bimbingan oleh Gusti kang Maha Suci, dan mumpung malam ini malam pergantian tahun baru Syamsiyyah. kita niati acara ini sebagai wasilah atau perantara doa di tahun kedepan di tahun 2018. Tukas kang Amin memeragakan bawa celuk tadi malam.
Meski malam tadi sebagai mengisi malam tahun baru tetapi ilmu ilmu
Dan kalau dilihat pada acara semalam kang, menyambut tahun baru justru dilakukan dengan berdoa, perenungan yang secara otomatis lewat pagelaran tari lengger yang sarat akan pituduh, pitutur, serta pepiling(pengingat). Kang Amin menambahi.

Wonosobo, 1 Januari 2018
Load disqus comments

0 facebook

#INSTAGRAM WONOSOBO CLICK