Selasa, 04 Juli 2017

Bernostalgia dengan Tari lengger



                                   


Lengger merupakan sebuah pagelaran tari yang dapat dikatakan kesenian khas kota tempe kemul, yang  sampai sekarang masih eksis dan kerap ditampilkan dalam acara ulang tahun desa atau  hari – hari besar lainnya. Hal ini dapat dikatakan sebagai ungkapan rasa syukur  kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kenikmatan dan kesejahteraan yang dirasakan. Jika di othak athik gathukkan  dengan peribahasa “sambil menyelam minum air” mungkin dapat dikatakan pas, sebab sambil syukur juga nguri-uri budaya jawa.
Wonosobo click akan mengajak sedikit bernostalgia  mengenai kisah tari lengger diambil. Sebelum lakon Tari lengger ditampilkan tari lengger biasanya diawali dengan tembang Babadan, kemudian tolak balak, dan iling-iling. Lalu dilanjutkan kinayakan. Tembang babadan mennyiratkan tentang bersyukur, tembang tolak balak menyiratkan tolak balak dengan diselingi sholawat- “sholallahu alaihi wassalam”, dan iling-iling menyiratkan tentang pepeling, agar selalu iling atau  ingat kepada Allah dan kekasih-Nya.
Kemudian Kinayakan, kinayakan secara harfiah berasal dari kata ayak (filter) jadi dalam laku hidup harus selalu berhati hati dan berlatih menyaring(memfilter) antara perilaku yang baik dan yang buruk.
Sedikit flashback bahwa tari lengger merupakan sebuah pagelaran tari yang diambil dari kisah asmara antara Galuh Candra Kirana dan Panji Asmara Bangun. Galuh Candra Kirana adalah putri dari Prabu Lembu Ami Joyo yang memimpin Kerajaan jenggolo Manik, sementara Panji Asmoro Bangun adalah putra  Prabu Ami Luhur yang memimpin Kerajaan Cenggolo Puro. Kedua kerajaan ini ingin mempererat hubungan dengan menikahkan kedua anak mereka. Sayang, pernikahan tersebut hampir gagal karena usaha Galuh Ajeng (anak Prabu Lembu Ami joyo dari selirnya).
Galuh Candra Kirana harus keluar dari kerajaan dan menjadi penari lengger. Suatu hari, kelompok tari lengger Galuh Candra Kirana diundang main di kerajaan Cenggolo Puro oleh panji Asmoro bangun. Tampil di depan tunangannya, Galuh Candra Kirana memutuskan membuka penyamarannya. Melihat kecantikan Galuh Candra kirana, Panji Asmara Bangun langsung jatuh cinta. Pasangan ini kemudian menikah.
Kisah lain, Tari ini berawal ketika Raja Brawijaya yang kehilangan putrinya, Dewi Sekartaji, mengadakan sayembara untuk memberikan penghargaan bagi siapapun yang bisa menemukan sang putri. Bila pria yang menemukan akan dijadikan suami sang putri dan jika wanita maka akan dijadikan saudara.
Sayembara yang diikuti oleh banyak ksatria ini akhirnya tinggal menyisakan dua peserta yaitu Raden Panji Asmara Bangun yang menyamar dengan nama Joko kembang Kuning dari Kerajaan Jenggala. Satu lagi, Prabu Klana dari Kerajaan Sebrang, merupakaan orang yang menyebabkan sang putri kabur karena raja menjodohkannya.
Dalam pencarian tersebut, Joko Kembang Kuning yang disertai pengawalnya menyamar sebagi penari keliling yang berpindah pindah dari desa ke desa lain. Lakon penarinya adalah seorang pria yang memakai topeng dan berpakaian wanita yang diiringi alat musik seadanya. Ternyata dalam setiap pementasannya tariini mendapat sambutan yang meriah. Sehingga dinamai Lengger.
Hingga disuatu desa, tari lengger ini berhasil menarik perhatian Putri Dewi Sekartaji dari persembunyiannya. Namun pada saat yang bersamaan Prabu Klana juga telah mengetahui keberadaan sang putri, mengutus kakaknya Retno Tenggaron yang disetai prajurit wanita untuk melamar Dewi Sekartaji. Namun lamaran itu ditolak Dewi sehingga  terjadilah perkelahian dan Retno Tenggaron yang dimenagi  sang Putri. Sementara Prabu Klana dan Joko Kembang Kuning tetap menuntut haknya pada raja. Sehingga akhirnya raja memutuskan untuk agar keduannya untuk bertarung.
Dalam pertarungan, Joko Kembang Kuning yang diwakili oleh ksatria Tawang Alun berhasil menewaskan Prabu Klana. Di akhir kisah Joko Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji menikah dengan pestanya disemarakkan dengan hiburan Tari Topeng Lengger.
Begitulah, beberarapa kisah yang dapat kita ulas. Sebenarnya masih ada beberapa versi cerita mengenai asal mula cerita tari lengger diambil, yang jelas bukan memasalahkan cerita itu diambil namun, tinggal bagaimana kita belajar pada kisah kisah tersebut. Meskipun tau dan paham certia tari lengger diambil juga lebih baik, tapi yang  lebih penting ‘pokoke’ selalu nguri uri kabudayan jawi. Salam Tempe Kemul




Load disqus comments

0 facebook

#INSTAGRAM WONOSOBO CLICK