Kamis, 06 April 2017

Mari, belajar pada Tari Lengger Wonosobo







        “rogol kembang menyan putih widadari temuruna
     eee Sulasih sulandono 
       menyan putih pangundang dewa
      ana dewa dene sukma
       widadari temuruna



lirik diatas merupakan sepenggal cuplikan syiir yang kerap dilantunkan pada pertunjukan Tari Topeng lengger, dengan lakon Sulasih. Tari Topeng merupakan kesenian khas masyarakat Wonosobo. Disimpulkan seperti itu karena banyaknya grup kesenian Tari Topeng, atau biasa disebut tari lengger di Wonosobo. Misalnya saja grup kesenian Tari topeng Mitra BudayaGarung, Kec. Garung.
Tari lengger merupakan tari tradisional yang biasanya dipentaskan oleh 2 orang penari. Satu laki-laki dan satunya perempuan. Penari laki laki memakai topeng dan yang perempuan memakai pakaian tradisional, seperti: jarit, sampur/slendang, dengan diiringi alunan musik gamelan seperti, bonang, saron, gong, kenong, kendang, dsp.
Secara harfiah, tari lengger berasal dari dua kata yaitu le dan ngger. Le bermakna orang (laki-laki), sedangkan ngger bermakna geger (bikin gempar) para penonton, karena penari yang dikiranya perempuan ternyata malah laki-laki. Tari lengger mengingatkan manusia akan sangkan paraning dumadi. Manusia hidup di dunia hanya diibaratkan seperti mampir ngombe atau ‘outbond’ yakni sebentar dan sementara saja, sebab dunia hanya sesaat dan bukan tujuan hidup, maka yang harus dikerjakan adalah menanam dan menanam. Yang ditanam tidak lain kecuali kebaikan, Setelah itu akan kembali ke Gustinya, Allah SWT.
Dikisahkan pula bahwa Sunan Kalijaga menggunakan Tari Lengger sebagai perantara dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat.Pada masa itu tari tersebut sedang ramai di kalangan masyarakat sebagai tontonan dan hiburan warga. Sehingga mereka susah diajak ke masjid, apalagi untuk mendalami agama Islam. Mereka tidak tertarik. Oleh karena itu, dengan tetap mempertahankan tradisi dan budaya setempat, Sunan Kalijaga ikut menari untuk memperingatkan. Sehingga, tari lengger juga bermakna ling (iling) dan ngger (angger), yaitu ilinga ngger (ingatlah nak, yen mbesuk kuwi bakale mati). Tari lengger juga menyiratkan bahwa, dalam laku hidup itu ambillah yang baik-baik dan buanglah perilaku yang buruk seperti yang digambarkan pada gerakan tari lengger.
Load disqus comments

0 facebook

#INSTAGRAM WONOSOBO CLICK