Kamis, 08 Desember 2016

KIAI KOLODETE DAN RAMBUT GIMBAL



KIAI KOLODETE DAN RAMBUT GIMBAL
           Wonosobo  berasal dari dua kata yaitu wana dan saba. ‘Wana’ berasal dari bahasa kuno yang berarti sawah, alas atau hutan sedangkan ‘saba’ berarti dikunjungi, berarti hutan yang sering dikunjungi, Wonosobo dikenal sebagai bagian dari tumenggungan atau kabupaten pasca perang Diponegoro pada tahun 1825 M. Sedangkan pada masa kesultanan jogjakarta, sebagian wilayah ini masuk wilayah Ledok dan Gowong yang secara administratif disatukan dengan Jabarangkah.                                                                                                               
           Mengenai nama Wonosobo saat ini  yang menjadi nama Kabupaten, berasal dari nama Wanasaba  (wanusaba) sebuah dusun yang berada di desa Plobongan Kecamatan Selomerto. Dusun ini pada masa perang Diponegoro dijadikan Tumenggungan Wanasaba dengan dipimpin salah seorang tumenggung. Pasca perang Diponegoro oleh pemerintah Belanda sekitar tahun 1832 M, pusat pemerintahan dipindahkan ke sebelah utara alun-alun Wonosobo hingga saat ini, sejak dulu Wonosobo merupakan tempat pertama timbulnya aktifitas Budaya dan kekuasaan politik orang-orang yang beragama  Hindu pada masa Dinasti Wangsa Syailendra pada abad ke VII sampai dengan XIII M.                                               
                                                                                    
          Disalah satu bagian dari dataran tinggi wonosobo terdapat Desa yang di sebut Desa Dieng. Dieng adalah salah satu Desa yang terletak didataran tinggi di Jawa Tengah yang masuk pada wilayah Kabupaten Wonosobo dan sebagian masuk pada wilayah Kabupaten Banjarnegara, letaknya di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, asal mula nama Dieng dari bahasa Kawi dan terdiri dari dua kata yaitu ‘Di’ yang berarti tempat dan Hyang yang berarti Dewa,  jadi Dieng adalah tempat bagi para dewa bersemayam.                                 
           Dieng sangat terkenal dikalangan masyarakat sekitar yang berada di bawah kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, bahkan hingga ke mancanegara. Salah satu alasan mengapa dieng begitu fenomenal dikalangan orang–orang adalah keelokan daerahnya yang asri, posisi alamnya yang sangat indah dengan panorama Gunung, telaga, candi serta situs-situs yang menunjukkan tentang aktivitas masyarakat pada masa lalu. Dataran tinggi Dieng merupakan daerah yang subur dan kekayaan alamnya yang tak tertandingi. Gunung Dieng, Sumbing dan Sindoro yang memagari kota sejuk ini menambah keindahan Wonosobo yang asri, hawanya yang sejuk tanahnya subur, disana sini terlihat hamparan tumbuh-tumbuhan dan di sebagian daerah ini terdapat perkebunan teh yang membentang bagaikan permadani hijau besar indah dan lebar.                              
         Saat ini, Dieng merupakan daerah yang di tuju banyak orang untuk merasakan keindahan dunia. Dieng juga dijuluki sebagai negri di atas awan karena letaknya yang berada di antara tiga pegunungan yang membuat hawa di daerah Dieng terasa dingin dan sejuk, julukan lain untuk Dieng adalah Bumi kayangan, konon Dieng pada masalalu adalah pusat kerajaan  Hindu Budha terbesar di Wonosobo yang meninggalkan jejak berupa Candi Arjuna , Candi Bima dan sebagian candi lainya. Dibalik keindahan panorama alam yang saat ini sangat terkenal tersebut, tersimpan sejarah yang membuat Dieng menjadi begitu fenomenal dan menarik bagi masyarakat sekitar dan masyarakat mancanegara                                             
          Sekitar abad ke 17 M datanglah tiga  orang utusan, saat itu Dieng masih banyak didiami (menurut kepercayaan orang pada masa lalu) oleh dewa-dewi Hindu, seorang utusan dari kerajaan Mataram kuno diperintah untuk membuka wilayah Dieng dan memperluas daerah kerajaan Mataram juga dalam misi meyebarluaskan agama islam- yang bernama Kiai Kolodete dan Isterinya Nyi Roro Ronce juga bersama dengan Kiai Walik, Kiai Wiragati adiknya Kiai Kolodete, Kiai Karim, Kiai Walik berada di daerah Wonosobo yang kala itu masih berupa hutan belantara, yang kala itu dipercaya masih didiami oleh para jin-jin dan roh-roh halus. Ada yang disebut Genderwo, Pocong, Kuntilanak, buto ijo, tuyul dan Banaspati yang bentuknya berupa bola api yang beterbangan. Genderwo yang memiliki badan besar kira-kira melebihi 50 meter, pocong yang digambarkan memakai kain kafan lalu berjalan dengan melompat-lompat, Kuntilanak banyak dibicarakan karna terkenal dengan sosoknya yang mengerikan, dengan memakai kain putih berbentuk seperti daster berukuran besar dan panjang dengan dipenuhi percikan darah di bagian belakang dan depan, lalu memiliki rambut panjang dan terurai, rambut panjangnya terurai mencapai kaki, lalu kuntilanak tersebut mengendong anak, Buto Ijo berbadan besar hampir menyerupai genderwo namun Buto Ijo memiliki badan dengan warna hijau atau ijo dan badanya sangat gemuk, serta memiliki mata yang merah darah, Tuyul digambarkan berbentuk kecil dan memiliki kepala yang gundul, kebanyakan yang dapat melihat tuyul adalah anak-anak kecil , karena ukuran tubuh tuyul yang hampir sama dengan anak kecil, Banaspati yang sekarang disebut mirip seperti bola api yang terbang dan mengejar orang-orang yang dirasanya mengganggu keberadaanya. Kono, makhluk makhluk tersebut sering muncul pada malam selasa kliwon dan jum’at kliwon.                                                                               
           Kiai Walik yang telah berada di Wonosobo merupakan arsitek pembangunan kota,. Kiai Walik dikenal sebagai sosok kiai yang nyentrik, dari perkataanya yang terkadang aneh dan bersifat meramal, yang kemudian rata-rata menjadi kenyataan. Seperti, suatu saat kiai Walik itu hendak menanam pohon beringin walik (pohon beringin yang daunya terbalik), lalu beliau berkata “cung ing kono mbesok dadi papan sobo lan kanggo olah kanuragan “ tempat ini sekarang menjadi paseban yang dikenal dengan alun-alun.  Ada pula cerita yang mengatakan bahwa suatu saat kiai Walik sedang menabur bibit padi, sembari berkata “ini akan menjadi tempatnya bagi orang-orang jahat” dan sekarang tempat tersebut menjadi penjara yang terletak di daerah sekitar alun-alun Wonosobo. Begitu pula dengan tempat yang sekarang ini menjadi pasar Wonosobo. Beliau berkata juga sembari menabur bibit padi ditempat tersebut “disina akan menjadi tempat bagi orang mencari nafkah”                                       
                    Kiai Kolodete yang menetap di Dieng selama berpuluh-puluh tahun dan sesuai misi awal, membawa ajaran–ajaran agama Islam untuk disebarkan pada masyarakat Dieng yang kala itu masih mememiliki kepercayaan yang kental dengan roh-roh halus. konon, Kiai Kolodete bersemayam di pegunungan Dieng dan diperkirakan moksa di Gunung Kendil yang tak jauh dari Kawah Sikidang Dieng. Saat ini bisa kita lihat di puncak gunung ada bangunan pendapa kecil tempat ziarah, dan tempat tersebut adalah tempat Kiai Kolodete moksa. Konon berdo’a ditempat tersebut akan cepat dikabulkan.                             
          Ada sebuah cerita tentang Kiai Kolodete yaitu menurut salah satu sumber mengatakan bahwa kiai Kolodete suatu hari dicari oleh Kiai Wiragati, beliau lalu menyambangi tempat kiai Kolodete bertapa, setelah menunggu beberapa lama Kiai Kolodete masih belum juga kembali, maka beliaupun pulang ke rumahnya. Hingga suatu hari, ketika Kiai Wiragati sedang menggarap sawahnya, kerbau yang membajak sawahnya berlari tanpa sebab, lalu beliau mengejarnya. Akan tetapi si kerbau masih berlari, sehingga kiai Wiragati tidak bisa menangkapnya. Demikian kejar-kejaran berlangsung beberapa lama, akhirnya kerbau berhenti didepan sebuah gua di Gunung Dieng. Goa itu merupakan sebuah keraton makhluk halus (Makhluk siluman) yang lengkap dengan penjaganya. Ketika Kiai Wiragati sampai di muka istana, ia ditanya oleh makhluk halus penjaga goa. Sang penjaga (yang makhluk halus tersebut) bertanya asal usul dari kiai Wiragati dan apa tujuan beliau bertandang ke goa ini. Beliau menjawab bahwa ia adalah kiai Wiragati adik dari kiai Kolodete dan bermaksud menangkap kerbau bajaknya yang berlari ke depan goa ini. Kiai Wiragati lalu diajak masuk oleh sang penjaga untuk menghadap rajanya. Saat Kiai Wiragati sampai di dalam goa tersebut, beliau mendapati bahwa ternyata raja dari makhluk halus tersebut adalah Kiai Kolodete, kakaknya yang sudah beberapa lama beliau cari. Kiai Kolodete saat itu tidak lagi berbentuk manusia, melainkan telah berubah menjadi makhluk halus. Dalam pertemuan itu Kiai Kolodete mengatakan bahwa telah lama ia ingin bertemu adiknya, tetapi tidak bisa karena sekarang dirinya sudah menjadi makhluk halus. Kedatangan Kiai Wiragati ke istananya merupakan kehendak Kiai Kolodete. Kemudian dia berpesan kepada adiknya bahwa barang siapa yang ingin terkabul keinginanya supaya menyiapkan kegemaranya, yaitu Jodo Bakar dan wedang Jembawo (kopi dicampur santan dan gula), selanjutnya beliau menyerahkan kunir (kunyit) dan encis (keris dalam ukurang yang kecil) sambil berkata:                                                                                                                       
          “bawalah benda ini dan berikan encis ini ke salah seorang keturunanmu. Kelak keturunan yang menyimpan encis ini akan menjadi orang besar dan satu lagi pesanku sebelum berjalan tujuh langkah dari tempat ini janganlah engkau menoleh kebelakang”                                                                   
Selesai menerima pesan-pesan itu, Kiai Wiragati lalu meninggalkan tempat dengan tanpa menoleh kebelakang. Sebelum berjalan tujuh langkah, terjadilah suatu keajaiban atau keanehan, yaitu Kiai Wiragati tiba-tiba sudah sampai dimuka rumahnya.                                                                                         
               Sesampainya dirumah kunyit pemberian Kiai Kolodete diceritakan berubah menjadi emas dan Kiai Wiragati menjadi orang yang kaya mendadak, sedangkan encisnya disimpan baik-baik dan Kiai Wiragati yang sudah menjadi orang kaya berkat pemberian Kiai Kolodete berupa kunyit dan encis telah ditutup dengan kisah lanjut yaitu pertemuanya dengan Bupati Wonosobo, Ki Tumenggung Joyo Negoro. Dan pada akhirnya encis tersebut diserahkan kepada penguasa baru yang konon orang-orang yang diangkat jadi penguasa adalah mereka-mereka yang dekat dengan pemerintahan Mataram Islam Yokyakarta.                                                                
          Kiai Kolodete dipercaya sebagai leluhur sekaligus penguasa dataran dataran tinggi Dieng. Semasa kecilnya kiai Kolodete memiliki rambut Gimbal. Dialah yang mewariskan rambut gimbal pada anak-anak di seputar Dieng, menurut mitosnya kiai Kolodete merasa terganggu akan rambut gimbalnya. Maka, sebelum meninggal ia berpesan pada anak cucunya agar membantu dalam menghadapi gangguan rambut gimbal tersebut dan juga suatu saat Kiai Kolodete berkata tidak akan mencukur rambutnya sebelum masyarakat Dieng makmur.         
           Rambut gimbal Kiai Kolodete hingga kini masih dititiskan kepada anak–anak kecil yang ada di Dieng, maka sebagian besar anak–anak Di Dieng memiliki rambut Gimbal, disekitar wilayah dataran tinggi Dieng juga dilereng sebelah barat gunung sindoro dan gunung sumbing anak-anak yang berambut gimbal juga diyakini keturunan Eyang Kiai Kolodete yang konon berambut gimbal. Anak-anak gimbal tersebut sering disebut anak-anak sukerta atau diganggu, anak sukerta adalah anak yang dicadangkan menjadi mangsa dari Batarakala. Agar kembali sebagaimana anak manusia yang wajar maka harus dibersihkan dari sesukernya (gimbalnya) anak yang memiliki rambut gimbal dipercaya memiliki garis keturunan dengan kiai Kolodete. Anak yang berambut gimbal ini diperlakukan secara istimewa oleh orang tuanya dan sebisa mungkin segala permintaanya dituruti oleh orang tuanya karena diyakini permintaan tersebut tidak semata-mata keinginan dari sang anak, namun juga merupakan keinginan dari sang leluhur dan jika anak-anak itu diperlakukan secara istimewa akan mendatangkan rizki bagi kedua orang tuanya.                                                  
               Suatu hari ketika anak yang telah ditakdirkan akan memiliki rambut  gimbal mula-mula anak itu akan mengalami demam yang tinggi yang kemudian diikuti dengan merekatnya helai-helai rambut yang kemudian menjadi gimbal, anak yang memiliki rambut gimbal ini harus mengikuti syukuran, atau yang disebut sebagai upacara ruwatan. Ruwatan berasal dari kata ‘ruwat’ atau Rumuwat atau Mengruwat yang berarti membuat tidak kuasa, menghapuskan kutukan, menghapuskan kemalangan, noda dan lain-lain. Ruwatan merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Dieng setiap satu tahun sekali untuk mencukur rambut gimbal tersebut, mula-mula kegiatan ini dilakukan peroranngan atau satu persatu, namun karena terlalu banyak anak-anak yang memiliki rambut gimbal untuk mempersingkat maka dilakukan dengan upacara masal, proses dimulai dari napak tilas ketua masyarakat Dieng yaitu kunjungan ke tempat dimana Kiai Kolodete dan Ni Roro Ronce pernah berkunjung. Diantaranya adalah Candi Dwarawati, komplek Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, Candi Bima , Sendang Maerokotjo, Telaga Balikambang, Kawah Sikidang, komplek Pertapaan Mandalasari, Kali Kepek, dan Komplek Pemakaman Dieng. Pemilik rambut gimbal kemudian diarak menuju tengah pelataran komplek Candi Arjuna, diiringi dengan tari-tarian seperti tari Rampak, tari Yakso atau tari Waros. Sebelum poses pemotongan rambut, anak harus mengatakan apa yang menjadi keinginanya, setelah orang tua anak atau kerabatnya memenuhi keinginan yang disebutkan anak ketika bangun tidur maka proses pemotongan rambut dapat dilaksanakan. Pernah terjadi suatu kasus dimana anak yang dicukur tersebut tidak dipenuhi keinginanya, maka selesai dicukur anak tersebut mendem atau kemasukan jin. Maka pemenuhan keinginan anak sudah menjadi kewajiban bagi orang tua atau kerabatnya.                                                                                                                 
           Waktu pelaksanan upacara dilaksanakan pada malam hari, setelah isya’ bersamaan dengan hari kelahiran (berdasarkan weton, hari dan pasaranya) atau hari yang dianggap baik menurut masyarakat setempat, yaitu dua atau empat hari setelah weton atau neptu anak yang bersangkutan. Adapun bulan yang dipakai untuk malaksanakan ruwatan yaitu bulan menurut perhitungan kalender Islam atau bulan yang dianggap baik yaitu bulan besar (Dzulhijah), Maulud, Ba’da Maulud, Sapar, Jumadilawal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, dan Syawal.             
             Di dalam proses pemotaongan inilah terdapat akulturasi antara nilai-nilai tradisi atau kebudayaan lokal dan nilai-nilai Islam, seperti halnya dalam upacara ini masih terdapat sesaji-sesaji sebagai perlengkapan upacara yang menandakan sebagai tradisi lokal,  sedangkan nilai-nilai islamnya terdapat pada do’a-do’a yang digunakan. Untuk perlengkapan acara atau prosesi pemotongan tersebut, perlu disediakan beberapa hal yang harus ada misalnya dengan adanya tumpeng yang terbuat dari nasi (bukan nasi ketan atau nasi merah) yang berbentuk kerucut, merupakan perlambangan dari kekuasaan tuhan, tumpeng rombyong menggambarkan alam seisinya. Lauk pauk yang ditancapkan ditumpeng menggambarkan rambut gimbal, sebagian masyarakat berpendapat tumpeng rombyong ditunjukkan kepada Kiai Kolodete. Tujuan dilaksanakanya ruwatan ini menurut masyarakat Dieng adalah sebagai  permohonan kepada tuhan untuk menghilangkan mala (sial) yang mengenai anak tersebut, disamping juga memohon agar anak tersebut terbebas dari pengaruh kesaktian roh Kiai Kolodete.
           Oleh karena itu, anak-anak yang memiliki rambut gimbal harus diruwat dengan mencukur rambutnya yang gimbal, setelah diruwat masyarakat setempat menyakini  anak-anak  tersebut akan diberi keselamatan dalam hidupnya, upacara ruwatan ini dilaksanakan setelah perintah atau keinginan dari anak yang memiliki rambut gimbal tersebut dipenuhi dan jika keinginanya tidak dapat dipenuhi maka rambut gimbalnya yang telah dicukur akan tumbuh kembali atau adanya gangguan fisik dan psyikis. Hingga kini anak-anak yang sudah diruwat hidup layaknya anak-anak yang lain dan memiliki rambut yang normal, upacara tersebutpun masih langgeng hingga sekarang. Tetapi sekarang, ada pula yang melaksanakan cukuran rambut gimbal tersebut dirumah anak berambut gimbal dengan iringan bacaan barzanji, rambut yang gimbal dipotong oleh salah satu anggota keluarganya. Lalu dibopong dan berputar mengelilingi bagian dalam orang-orang yang ikut dalam berzanjian tersebut. Pada akhirnya didoakan oleh seorang kiai dan diberikan amplop sodakoh. Akan tetapi karena suatu sebab, entah tidak dipenuhinya keinginan anak atau yang lain, rambut gimbal tersebut tumbuh kembali. Pada pemotongan kedualah, baru rambut gimbal itu tidak tumbuh lagi. Itu menurut pengalaman seorang anak kecil beberapa tahun lalu. Tetapi hingga saat ini yang pasti tetap ada acara yang mengiringi pemotongan rambut gimbal.     ....................................................................................................................................                                                                                                                                                      














Load disqus comments

0 facebook

#INSTAGRAM WONOSOBO CLICK